Perkiraan Awal Musim Hujan 2018/2019



Beberapa waktu belakangan, wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta mengalami beberapa kali hujan ringan di beberapa tempat. Lalu Bagaimana perkiraan BMKG terkait awal musim hujan 2018/2019? Berikut ini penjelasannya.

 

“El Nino Melemah Kuartal Akhir 2018 Berpotensi Sebabkan 68% Wilayah Indonesia Mengalami Keterlambatan Awal Musim Hujan”

“Kondisi El Nino diprediksi BMKG mulai September dengan intensitas lemah hingga awal tahun 2019. El Nino lemah ditandai oleh menghangatnya suhu muka laut di wilayah Pasifik bagian tengah dan timur sebesar +0.5°C s/d +1.0°C. Kemunculan fenomena anomali iklim global El Nino dan La Nina di Samudera Pasifik diketahui dan dipantau oleh banyak badan meteorologi dunia, termasuk BMKG, dengan indeks perubahan kondisi laut dan atmosfer yang dikenal dengan Indeks ENSO (El Nino – Southern Oscillation)”, demikian di sampaikan Prof. Dr. Dwikorita Karnawati, MSc, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika pada konferensi press Prakiraan Musim Hujan 2018/2019 Jakarta, 21 Agustus 2018.

Sementara itu di sisi barat, fenomena anomali iklim Samudera Hindia Dipole Mode berada pada kondisi normal dengan indeks sebesar 0 s/d +0.4 pada bulan Agustus hingga Oktober 2018. Dipole Mode Samudera Hindia dicirikan oleh kondisi suhu muka laut yang bertolak belakang (hangat versus dingin, atau sebaliknya) antara Samudera Hindia bagian barat (sebelah timur Afrika) dan Samudera Hindia bagian timur (barat Sumatera).

Hingga Oktober 2018, suhu Muka Laut di wilayah Indonesia diprediksikan dalam kisaran normalnya dan cenderung hangat dengan perubahan fluktuatif -0.5°C s/d +0.5°C. Sebagian wilayah perairan diprakirakan akan lebih hangat hingga +2°C, di antaranya perairan Laut Banda dan sekitar Papua.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Herizal menjelaskan, “Secara umum, kondisi musim hujan dan kemarau di Indonesia, selain dikendalikan oleh aliran masa udara monsun dari Benua Asia dan Australia, El Nino/La Nina Samudera Pasifik dan Dipole Mode Samudera Hindia juga memengaruhi musim menjadi lebih kering atau lebih basah. Selain itu pergerakan pusat konvektif masa udara basah MJO dari barat ke timur melintasi wilayah Indonesia dengan siklus kehadiran 30 hingga 90 hari juga membawa dampak penambahan curah hujan beberapa hari hingga minggu”.

Prospek kondisi atmosfer global dengan latar belakang El Nino lemah di Samudera Pasifik dan Dipole Mode normal di Samudera Hindia pada kuartal akhir 2018 akan ikut berdampak pada peralihan musim kemarau ke musim hujan akhir tahun ini.

 

Kondisi Saat Ini

Herizal memaparkan, “kondisi saat ini, pantauan dinamika laut-atmosfer hingga pertengahan Agustus 2018 menunjukkan Samudera Pasifik dalam kondisi netral (indeks ENSO = +0.28), demikian juga Indeks Dipole Mode Samudera Hindia menunjukkan kondisi netral (indeks IOD = +0.14), sehingga tidak cukup kuat memengaruhi sirkulasi massa udara monsun Australia yang saat ini mendominasi wilayah Indonesia”.

Secara umum suhu permukaan laut di perairan Indonesia berada pada kondisi normal di kisaran 26°C – 30°C dengan fluktuasi perubahan suhu -1°C s/d +1°C terhadap klimatologinya.  Daerah dengan suhu permukaan laut relatif lebih hangat berada di perairan sebelah barat Sumatera, sekitar kepulauan Maluku, dan perairan utara Papua Barat yang mencapai +1°C. Sementara perairan dengan suhu muka laut relatif dingin hingga -2°C terjadi di perairan di selatan Jawa dan Bali.

Indra Gustari, Kepala Bidang Analisis Variabilitas Iklim BMKG menunjukkan hasil pantuan BMKG terhadap perkembangan musim kemarau hingga akhir Agustus 2018 ini mengindikasikan bahwa hampir seluruh wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau yaitu sebanyak 95.6 %. Sedangkan sisanya 4.3% masih mendapatkan hujan 50 – 150 mm dalam 10 hari terakhir, dan hanya 0.1% wilayah masih mendapatkan curah hujan cukup tinggi >150 mm/dasarian.

Puncak musim kemarau saat ini ditandai dengan 30% wilayah di Indonesia terutama bagian selatan khatulistiwa mengalami kurang hujan (kekeringan meteorologis) kategori sangat panjang (31 – 60 hari tanpa hujan), bahkan 6,23% diantaranya terkategorikan ekstrim (>60 hari tanpa hujan). Hanya 8,4% wilayah terpantau masih ada hujan yaitu di sebagian wilayah di Pesisir Barat Sumatera, Sulawesi bagian Tengah dan Papua. Mulai awal September, diperkirakan cakupan daerah terdampak Puncak Musim Kemarau tersebut akan berkurang secara bertahap.

 

Bagaimana Awal Musim Hujan 2018/2019?

“Dalam hal prediksi musim, secara operasional BMKG membuat prakiraan curah hujan untuk setiap luasan daerah yang dinamakan Zona Musim. Zona Musim (ZOM) adalah daerah yang pola hujan rata-ratanya memiliki perbedaan yang jelas antara periode musim kemarau dan periode musim hujan. Wilayah ZOM tidak selalu sama dengan luas daerah administrasi pemerintahan. Dengan demikian satu kabupaten atau kota dapat saja terdiri dari beberapa ZOM dan sebaliknya satu ZOM dapat terdiri dari beberapa kabupaten”, kata Indra Gustari.

Awal Musim Hujan 2018/2019 di 342 Zona Musim (ZOM) sebagian besarnya diprediksikan akan mulai pada bulan Oktober 2018 di sebanyak 78 ZOM (22.8%), 147 ZOM (43.0%) di bulan November 2018, dan 85 ZOM di bulan Desember 2018.

Jika dibandingkan terhadap rerata klimatologis 30 tahun (periode 1981-2010), Awal Musim Hujan 2018/2019 umumnya akan mundur di 234 ZOM (68.4%), sama dengan rata-ratanya 78 ZOM (22.8%) dan maju  sebanyak 30 ZOM (8.8%).

Untuk menggambarkan tingkat kebasahan musim hujan, BMKG menggunakan kriteria sifat hujan. Sifat Hujan adalah perbandingan antara jumlah curah hujan selama rentang waktu yang ditetapkan (satu periode musim hujan atau satu periode musim kemarau) dengan jumlah curah hujan normal klimatologinya selama 30 tahun.

Terhadap rerata klimatologis curah hujan, Sifat Hujan selama Musim Hujan 2018/2019 di sebagian besar daerah diprakirakan Normal yaitu sebanyak 246 ZOM (71.9%). 69 ZOM (20.2%) diprakirakan Bawah Normal dan sisanya sebanyak 27 ZOM (7.9%) akan mengalami Sifat Hujan Atas Normal.

 

Kapan Puncak Musim Hujan 2018/2019?

Puncak Musim Hujan 2018/2019 diprediksikan terjadi pada bulan Januari – Februari 2019. Apabila El Nino berlangsung hingga awal tahun 2019, pengaruh puncak musim hujan terhadap akumulasi curah hujan di beberapa wilayah sedikit banyak akan berkurang akibat terdampak El Nino lemah tersebut. Tetapi, itu tidak berarti mengurangi ancaman risiko kejadian hujan ekstrem. Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Instansi terkait dan masyarakat pada umumnya tetap perlu waspada terhadap risiko dampak yang ditimbulkan terutama untuk daerah-daerah yang rentan terhadap bencana yang ditimbulkan oleh curah hujan yang tinggi seperti banjir, tanah longsor, genangan, angin kencang dan juga puting beliung.

 

Sumber: Kedeputian Bidang Klimatologi

 

 

 

(Kholiq R/MEDIA CENTER BPBD DIY/Danang Samsurizal)


FAST RESPONSE



    Pusdalops BPBD DIY

    Jalan Kenari No. 14A, Semaki, Umbulharjo,

    YOGYAKARTA, 55166

    Phone: (0274) 555584, 555585

    Fax: (0274) 555326

    Frek : 170.300Mhz duplex -500 tone: 88,5

    whatsapp : (0274) 555584

    email: pusdalopsdiy@gmail.com


ADMINISTRASI PERKANTORAN


    BPBD DIY

    Jalan Kenari No. 14A, Semaki, Umbulharjo YOGYAKARTA, 55166

    Telp. (0274)555836

    Fax. (0274)554206

    email: BPBD@jogjaprov.go.id

JADWAL KEGIATAN


PELATIHAN PENANGGULANGAN BENCANA


GEMPA TERKINI



STATUS GUNUNG MERAPI


PRAKIRAAN CUACA


Kota Yogyakarta
Kabupaten Sleman
Kabupaten Gunungkidul
Kabupaten Bantul
Kabupaten Kulonprogo


IKUTI KAMI