Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Daerah Istimewa Yogyakarta merilis infografis kebencanaan Mei 2026 yang memuat pembaruan data kejadian bencana selama April 2026 hingga 5 Mei 2026. Berdasarkan data tersebut, kejadian bencana di wilayah DIY masih didominasi oleh cuaca ekstrem dan tanah longsor. Tercatat cuaca ekstrem menjadi kejadian terbanyak dengan 20 kejadian, disusul tanah longsor sebanyak 21 kejadian. Selain itu, tercatat pula kebakaran sebanyak 5 kejadian, gempa bumi dirasakan sebanyak 5 kali, banjir sebanyak 5 kejadian, serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebanyak 1 kejadian.
Sebaran kejadian bencana terjadi di seluruh kabupaten/kota di DIY dengan wilayah Kabupaten Sleman menjadi daerah dengan jumlah kejadian tertinggi, yakni mencapai 20 kejadian atau sekitar 34% dari total kejadian. Kota Yogyakarta menempati urutan berikutnya dengan 14 kejadian (24%), diikuti Kabupaten Kulon Progo sebanyak 13 kejadian (22%), Kabupaten Gunungkidul sebanyak 7 kejadian (12%), serta Kabupaten Bantul sebanyak 5 kejadian (8%). Kondisi ini menunjukkan bahwa ancaman bencana di DIY memiliki karakteristik yang beragam dan dapat terjadi di berbagai wilayah dengan tingkat kerawanan yang berbeda.
Dari sisi dampak, bencana yang terjadi menyebabkan kerusakan pada berbagai sektor. Sebanyak 72 rumah dilaporkan terdampak, disusul kerusakan akses jalan sebanyak 27 titik, talud dan drainase sebanyak 19 titik, serta 46 kejadian pohon tumbang dan sekitar 3.000 pohon terbakar. Selain itu, dampak juga dirasakan pada fasilitas umum, tempat usaha, jaringan listrik, jaringan telepon dan internet, hingga fasilitas pendidikan. Total terdapat 96 jiwa terdampak, 3 orang mengalami luka-luka, dan 6 orang harus mengungsi. Kerugian material akibat berbagai kejadian bencana tersebut ditaksir mencapai sekitar Rp370 juta.
Sementara itu, aktivitas Gunung Merapi selama periode pengamatan masih berada pada status Siaga. Pemantauan aktivitas harian terus dilakukan sebagai bagian dari upaya mitigasi dan kewaspadaan terhadap potensi ancaman vulkanik. Data ini menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan, peningkatan kesadaran masyarakat, serta kolaborasi berbagai pihak tetap diperlukan guna mengurangi risiko dan dampak bencana di Daerah Istimewa Yogyakarta.

0 Komentar