Yogayakarta, 9 Juni 20206. BPBD DIY menyelenggarakan Sosialisasi Strategi Relawan dan Masyarakat dalam Manajemen Bencana Tahun 2026 di Kantor Kalurahan Bejiharjo, Kapanewon Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul dengan sasaran relawan, Pamong Kalurahan, tokoh masyarakat, pelaku wisata dan masyarakat. Kegiatan ini dibuka oleh Ibu RR. Tantri Jazziyatul Khasanah, S.Sos, M.A., M.P.A. dari BPBD DIY bersama Lurah Bejiharjo, Bapak Sigit Wibowo Nugroho, serta menghadirkan narasumber Bapak Syarief Guska Laksana, S.H. dari DPRD DIY dan Bapak Riki Suhartono, S.Si dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta.
Dalam paparannya, Bapak Syarief Guska Laksana menekankan pentingnya peran masyarakat dan relawan sebagai garda terdepan dalam upaya pengurangan risiko bencana. Menurutnya, kesiapsiagaan yang dibangun sejak sebelum bencana terjadi merupakan investasi penting untuk melindungi keselamatan jiwa dan mengurangi kerugian yang ditimbulkan.
Sementara itu, Bapak Riki Suhartono, S.Si dari BPPTKG menyampaikan materi mengenai amblesan tanah (sinkhole) yang berpotensi terjadi di kawasan karst Gunungkidul. Sinkhole adalah lubang alami yang terjadi akibat runtuhnya lapisan tanah ke dalam rongga bawah tanah (amblas) yang sering terjadi secara tiba-tiba. Beberapa penyebab utama fenomena ini adalah pelapukan dan pelarutan batuan (terutama batuan kapur), kebocoran pipa air bawah tanah, beban berlebih di permukaan tanah, curah hujan yang tinggi, serta gerakan tanah atau aktivitas seismik seperti gempa bumi. Materi yang disampaikan mengacu pada kajian BPPTKG mengenai kondisi geologi dan potensi sinkhole di wilayah Gunungkidul berserta proses terjadinya sinkhole.
Masyarakat diimbau untuk mengenali tanda-tanda awal yang dapat mengindikasikan potensi amblesan tanah, seperti munculnya retakan pada tanah atau dinding mendadak yang bisa memanjang atau melingkar, terjadi penurunan permukaan tanah, pintu atau jendela sulit dibuka dan ditutup, serta sumur tiba-tiba kering atau air menjadi keruh. Gejala-gejala tersebut perlu segera dilaporkan kepada pemerintah kalurahan atau instansi terkait agar dapat dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Sebagai langkah mitigasi, warga diharapkan menghindari pembangunan pada zona rawan sinkhole yang dapat dilihat dari peta kerawanan geologi, melakukan penyelidikan tanah sebelum pembangunan, pengelolaan air dengan bijak seperti mengurangi air yang meresap berlebihan ke dalam tanah, perbaiki sistem drainase, serta menampung dan memanfaatkan air hujan, menjaga lingkungan karst dengan vegetasi hutan dan menghindari penggalian atau pengerukan berlebihan yang dapat memicu runtuhnya tanah. Penting juga melakukan pemantauan berkala terhadap perubahan kondisi lingkungan terutama di lokasi rawan.
Jika terjadi amblesan, warga dihimbau untuk menjauhkan diri dari lokasi dan tidak mendekat atau melintas, mengevakuasi diri dan keluarga ke tempat yang aman, segera melaporkan ke pemerintah kalurahan dan BPBD, serta waspadai amblesan susulan di sekitar lokasi.
Melalui kegiatan ini, diharapkan relawan dan masyarakat Kalurahan Bejiharjo semakin memahami karakteristik ancaman geologi di wilayahnya, mampu mengenali gejala awal amblesan tanah, serta mengambil langkah mitigasi yang tepat guna meningkatkan keselamatan dan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana.

0 Komentar