Yogyakarta, 08 Oktober 2026 – BPBD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melaksanakan kegiatan Mobilisasi Personil Pusdalops dengan tema penggunaan aplikasi PAMOR dalam pendataan, pelaporan, dan penanganan kebencanaan di kabupaten/kota, Kamis (8/10/2026). Kegiatan berlangsung di ruang pertemuan Posko Utama BPBD Kabupaten Sleman, Jalan Kaliurang Nomor 17, Pakem, Sleman.
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan koordinasi antara BPBD DIY dan BPBD kabupaten/kota, sekaligus mendorong percepatan pengumpulan dan penyampaian data kejadian bencana melalui aplikasi PAMOR (Portal Data, Manajemen Operasi, dan Respon).
Dalam kegiatan tersebut, personel Pusdalops dan Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Sleman mendapatkan pengenalan serta pelatihan penggunaan aplikasi PAMOR. Materi meliputi pembuatan akun petugas dan tata cara memasukkan data kejadian bencana ke dalam sistem.
Yusuf Toto Purwoko selaku Ketua Tim Penanganan Darurat Bencana BPBD Kabupaten Sleman menyampaikan bahwa Kabupaten Sleman saat ini menghadapi sejumlah tantangan kebencanaan, terutama kekeringan dan kebakaran, baik kebakaran lahan maupun bangunan.
Menurutnya, kebutuhan distribusi air bersih pada 2026 meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Distribusi air bersih menjadi salah satu upaya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, tetapi diperlukan solusi jangka panjang. BPBD Kabupaten Sleman juga tengah mengajukan Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk pembangunan sumur dalam. Upaya pemenuhan air juga menyasar sekolah melalui koordinasi dengan Dinas Pendidikan, PDAM, dan pihak terkait.
Ia berharap data kebencanaan antara BPBD DIY dan BPBD kabupaten/kota semakin sinkron sehingga penanganan bencana dapat berjalan lebih optimal.
Sementara itu, perwakilan Pusdalops BPBD DIY, Meysita Normasari, menyampaikan bahwa kegiatan mobilisasi ini menjadi salah satu upaya untuk memperkuat koordinasi serta mendorong pemanfaatan PAMOR oleh BPBD kabupaten/kota. Aplikasi tersebut juga diharapkan dapat menjadi sumber informasi kebencanaan bagi organisasi perangkat daerah (OPD), mahasiswa, dan masyarakat yang membutuhkan data.
Dalam sesi pelatihan, peserta juga menyampaikan sejumlah masukan terkait pengembangan aplikasi, antara lain kebutuhan penyaringan data untuk mendukung penentuan bantuan serta penambahan petunjuk pengisian agar data yang dimasukkan dapat tersimpan dengan benar.
Pemanfaatan PAMOR diharapkan dapat memudahkan pemantauan kejadian bencana dan memperlancar pertukaran informasi antarinstansi. Dengan data yang semakin terintegrasi, koordinasi dalam menentukan langkah penanganan diharapkan dapat dilakukan secara lebih efektif.
Ke depan, BPBD DIY mendorong instansi terkait untuk turut memanfaatkan PAMOR sehingga informasi kebencanaan dapat dipantau bersama dan mendukung pengambilan keputusan saat dibutuhkan.
Melalui kegiatan ini, sinergi antara BPBD DIY dan BPBD kabupaten/kota diharapkan semakin kuat dalam mewujudkan pendataan dan pelaporan kejadian bencana yang lebih tertib, akurat, dan terintegrasi.

0 Komentar