Status Merapi
Status Merapi Terkini

Gempa Bumi
Sumber BMKG

Tanggal : 11 Mar 2026,   Jam : 09:12:13 WIB

Magnitudo : 5.0 SR,      Kedalaman : 10 km

Potensi : Gempa ini dirasakan untuk diteruskan pada masyarakat

Wilayah : Pusat gempa berada di laut 75 km timur laut Tojo Una-Una

Cuaca DIY
Prakiraan Cuaca


Waspada Pergeseran Tanah di Bantul, Warga Diminta Mengenali Tanda-tandanya Sejak Dini

Waspada Pergeseran Tanah di Bantul, Warga Diminta Mengenali Tanda-tandanya Sejak Dini

Hujan dengan intensitas lebat yang terjadi di wilayah Bantul pada akhir Februari 2026 memicu beberapa kejadian pergeseran tanah di kawasan permukiman. Salah satunya terjadi di Dusun Guwo RT 03, Kalurahan Triwidadi, Kapanewon Pajangan, pada Kamis (26/2) sekitar pukul 12.00 WIB. Pergerakan tanah di kawasan Perumahan Taman Semesta Asri menyebabkan kerusakan pada sedikitnya 20 rumah warga. Dari jumlah tersebut, satu rumah dilaporkan roboh dan 19 rumah mengalami kerusakan berat sehingga tidak dapat dihuni. Tanah di lokasi kejadian bahkan mengalami penurunan hingga sekitar 2,5 meter dengan area terdampak sekitar satu hektare. Kejadian serupa juga dilaporkan sehari kemudian di wilayah Jambon RT 28, Kalurahan Argosari, Kapanewon Sedayu, Bantul. Pergeseran tanah di Perumahan Graha Sedayu Sejahtera menyebabkan kerusakan pada beberapa bangunan, yaitu 6 rumah warga dan satu fasilitas umum berupa masjid. Rekahan tanah dilaporkan mencapai kurang lebih 50 meter dan menyebabkan keretakan pada dinding serta penurunan konstruksi bangunan. Kejadian ini diduga dipicu oleh kondisi tanah uruk yang labil dan hujan dengan durasi cukup lama yang mengguyur wilayah tersebut. (Sumber : BPBD Bantul) Menurut berbagai kajian kebencanaan, hujan berkepanjangan memang menjadi salah satu pemicu utama terjadinya gerakan tanah. Air hujan yang meresap ke dalam tanah dapat meningkatkan tekanan pada lapisan tanah sehingga membuat lereng atau tanah timbunan menjadi tidak stabil. Kondisi ini semakin berisiko jika terjadi pada tanah urukan, tebing yang dipotong, atau kawasan yang sistem drainasenya kurang baik. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kewaspadaan masyarakat terhadap potensi pergerakan tanah sangat penting, terutama saat musim hujan. Mengenali tanda-tanda awal sering kali dapat mencegah risiko yang lebih besar. Beberapa tanda alam yang perlu diwaspadai sebelum terjadi longsor atau pergerakan tanah antara lain: Munculnya retakan pada tanah, halaman rumah, jalan, atau dinding bangunan. Pintu dan jendela tiba-tiba sulit dibuka atau ditutup karena perubahan posisi bangunan. Tiang listrik, pagar, atau pohon terlihat miring dari posisi semula. Air sumur menjadi keruh atau debitnya berubah tiba-tiba. Muncul rekahan memanjang di tanah atau di sekitar fondasi rumah. Terjadi penurunan permukaan tanah secara perlahan. Tanda-tanda tersebut sering muncul beberapa waktu sebelum longsor besar terjadi. Sebagai langkah kewaspadaan, masyarakat diimbau untuk rutin memeriksa kondisi tanah di sekitar rumah, memastikan saluran drainase berfungsi baik, serta tidak menambah beban bangunan di area yang berpotensi labil. Jika ditemukan retakan tanah yang semakin melebar atau terjadi pergerakan tanah, warga diharapkan segera menjauh dari lokasi dan melaporkan kepada pemerintah setempat atau petugas kebencanaan. Kewaspadaan sejak dini menjadi kunci untuk mengurangi risiko dan menjaga keselamatan masyarakat.   ...

Detail Berita

Kemarau 2026 Diprediksi Datang Lebih Awal, DIY Perlu Waspada Risiko Kekeringan

Kemarau 2026 Diprediksi Datang Lebih Awal, DIY Perlu Waspada Risiko Kekeringan

Yogyakarta, 09 Maret 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan musim kemarau tahun 2026 akan datang lebih awal di sebagian besar wilayah Indonesia. Pergeseran ini berkaitan dengan berakhirnya fenomena La Niña lemah pada awal tahun dan kondisi iklim global yang cenderung menuju fase netral hingga berpotensi berkembang menuju El Niño pada pertengahan tahun. Pergantian angin baratan (monsun Asia) menjadi angin timuran (monsun Australia) juga menjadi penanda mulai masuknya musim kemarau. Menurut prakiraan BMKG, awal musim kemarau di Indonesia mulai terjadi secara bertahap sejak April 2026. Sekitar 16,3 persen wilayah Indonesia diprediksi memasuki kemarau pada bulan tersebut, kemudian meluas pada Mei dan Juni. Bahkan hampir setengah zona musim di Indonesia diperkirakan mengalami kemarau lebih cepat dari kondisi normalnya. Wilayah Jawa, termasuk Daerah Istimewa Yogyakarta, menjadi salah satu daerah yang berpotensi merasakan awal kemarau lebih cepat. Puncak musim kemarau secara umum diprediksi terjadi pada Agustus 2026 dan mencakup lebih dari 60 persen wilayah Indonesia. Pada periode tersebut kondisi kering diperkirakan semakin dominan, termasuk di wilayah Jawa bagian tengah hingga timur. BMKG juga memproyeksikan bahwa sifat musim kemarau tahun ini cenderung lebih kering dari biasanya di sebagian besar wilayah Indonesia dan durasinya berpotensi lebih panjang. Kondisi ini perlu menjadi perhatian bagi pemerintah daerah maupun masyarakat, terutama dalam pengelolaan sumber daya air serta antisipasi berbagai dampak yang mungkin muncul selama musim kemarau. Potensi Risiko Bencana di Musim Kemarau DIY Di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, musim kemarau biasanya identik dengan beberapa potensi bencana hidrometeorologi. Kondisi curah hujan yang menurun dalam waktu lama dapat memicu kekeringan, terutama di wilayah yang memiliki keterbatasan sumber air seperti sebagian kawasan Gunungkidul dan Bantul bagian selatan. Selain itu, suhu udara yang lebih panas dan vegetasi yang mengering juga dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, termasuk kebakaran lahan semak atau area hutan rakyat. Pada beberapa kondisi, musim kemarau juga dapat memicu kekurangan air bersih, gangguan pertanian, hingga meningkatnya kualitas udara yang kurang baik akibat debu atau asap. Karena itu, informasi prakiraan musim ini penting sebagai peringatan dini agar pemerintah daerah, relawan kebencanaan, dan masyarakat dapat menyiapkan langkah antisipasi sejak dini. Tips Kesiapsiagaan Menghadapi Musim Kemarau Agar dampak musim kemarau dapat diminimalkan, masyarakat dapat melakukan beberapa langkah sederhana berikut: 1. Menghemat dan mengelola air dengan bijak Gunakan air seperlunya dan mulai menampung air hujan atau air cadangan di tandon untuk kebutuhan rumah tangga. 2. Menjaga lingkungan sekitar dari potensi kebakaran Hindari membakar sampah atau membuka lahan dengan cara dibakar, terutama saat kondisi cuaca sangat panas dan berangin. 3. Menjaga vegetasi dan penghijauan Menanam pohon di sekitar lingkungan dapat membantu menjaga kelembapan tanah serta mengurangi dampak kekeringan. 4. Memantau informasi cuaca dan iklim secara berkala Ikuti informasi resmi dari BMKG maupun BPBD agar masyarakat dapat mengetahui perkembangan kondisi cuaca dan potensi risiko yang mungkin terjadi. 5. Mengantisipasi kekurangan air sejak dini Di wilayah yang sering mengalami kekeringan, masyarakat dapat mulai menyiapkan sumber air alternatif atau melakukan pengaturan penggunaan air bersama di tingkat dusun atau desa. Dengan kesiapsiagaan yang baik, dampak musim kemarau dapat ditekan semaksimal mungkin. Informasi prakiraan iklim yang disampaikan BMKG diharapkan tidak hanya menjadi data, tetapi juga menjadi dasar bagi pemerintah daerah dan masyarakat untuk melakukan langkah antisipasi sejak dini.   ...

Detail Berita

Optimalisasi Aplikasi Pamor, Pusdalops PB BPBD DIY Perkuat Konsolidasi di Kota Yogyakarta

Optimalisasi Aplikasi Pamor, Pusdalops PB BPBD DIY Perkuat Konsolidasi di Kota Yogyakarta

Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) BPBD DIY kembali melaksanakan kegiatan konsolidasi antar Pusdalops yang kali ini digelar di BPBD Kota Yogyakarta pada Rabu (04/03). Kegiatan ini merupakan bagian dari mobilisasi lanjutan untuk memperkuat koordinasi, menyelaraskan mekanisme kerja, serta meningkatkan kapasitas pengelolaan informasi kebencanaan di tingkat daerah. Konsolidasi ini menjadi ruang strategis untuk mempererat sinergi antaroperator agar sistem komando dan pelaporan berjalan lebih efektif dan responsif. Dalam pertemuan tersebut, fokus utama diarahkan pada sosialisasi sekaligus penguatan pemanfaatan Aplikasi Pamor sebagai sarana pendataan, pelaporan, dan penanganan kebencanaan, khususnya di wilayah Kota Yogyakarta. Optimalisasi penggunaan aplikasi ini dinilai penting untuk memastikan setiap kejadian bencana dapat terdokumentasi secara cepat, akurat, dan terintegrasi. Dengan sistem yang terdigitalisasi, proses distribusi informasi dari lapangan ke pusat kendali diharapkan semakin efisien dan meminimalkan potensi keterlambatan laporan. Melalui optimalisasi Aplikasi Pamor, Pusdalops PB BPBD DIY mendorong terciptanya manajemen kebencanaan yang berbasis data dan real time. Langkah ini diharapkan mampu mendukung pengambilan keputusan yang lebih tepat, meningkatkan kualitas respons darurat, serta memperkuat koordinasi lintas sektor dalam penanganan bencana. Dengan sistem yang semakin terintegrasi, kesiapsiagaan dan ketanggapan di wilayah Kota Yogyakarta dapat terus ditingkatkan secara berkelanjutan. ...

Detail Berita

Sebagai bentuk transparansi, kami meyediakan informasi publik sebagai berikut