Status Merapi
Status Merapi Terkini

Gempa Bumi
Sumber BMKG

Tanggal : 26 Apr 2026,   Jam : 06:01:03 WIB

Magnitudo : 4.7 SR,      Kedalaman : 32 km

Potensi : Gempa ini dirasakan untuk diteruskan pada masyarakat

Wilayah : Pusat gempa berada di laut 47 km baratdaya Pesisir Barat

Cuaca DIY
Prakiraan Cuaca


Optimalisasi Pamor, Perkuat Respons Bencana DIY

Optimalisasi Pamor, Perkuat Respons Bencana DIY

Kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Kapasitas Petugas Pusdalops PB se-Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2026 dilaksanakan pada Rabu, 22 April 2026, bertempat di Ruang Rapat Pusdalops BPBD DIY. Kegiatan ini mengusung tema optimalisasi penggunaan aplikasi Pamor sebagai sarana pelaporan kejadian dan bencana secara real-time. Bimtek ini bertujuan untuk meningkatkan efektivitas, kecepatan, serta akurasi pelaporan yang menjadi fondasi penting dalam pengambilan keputusan penanggulangan bencana di wilayah DIY . Dalam sesi pemaparan, peserta diberikan pemahaman teknis mengenai fitur dan alur kerja aplikasi Pamor yang berbasis web dan mobile. Aplikasi ini memungkinkan masyarakat melaporkan kejadian secara langsung yang kemudian diverifikasi oleh petugas sebelum diproses menjadi tiket penanganan. Sistem ini dilengkapi dengan berbagai fitur seperti peta kejadian, statistik, data terdampak, hingga dokumentasi penanganan yang terintegrasi. Selain itu, aplikasi Pamor juga dirancang sebagai pusat data satu pintu yang dapat mendukung kebutuhan analisis, pelaporan, serta respon cepat terhadap kejadian bencana . Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD DIY dalam keterangannya menegaskan pentingnya sinergi antar petugas dalam mengoptimalkan penggunaan aplikasi tersebut. Ia menyampaikan, “Optimalisasi aplikasi Pamor bukan hanya soal teknologi, tetapi bagaimana seluruh personel mampu memanfaatkannya untuk mempercepat respon dan memastikan data yang disajikan akurat serta dapat dipertanggungjawabkan.” Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh personel Pusdalops, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, semakin siap dalam menghadapi tantangan penanggulangan bencana berbasis data yang terintegrasi dan terpercaya. ...

Detail Berita

Dinamika Diskusi HKB 2026: Relawan, Prediksi Gempa, dan Kearifan Lokal Disorot

Dinamika Diskusi HKB 2026: Relawan, Prediksi Gempa, dan Kearifan Lokal Disorot

YOGYAKARTA — Sesi tanya jawab dalam Webinar Series peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) 2026 dan refleksi 20 tahun Gempa Jogja berlangsung dinamis, menghadirkan beragam perspektif kritis dari peserta dan tanggapan langsung para narasumber. Dipandu moderator Budi Santoso, diskusi ini memperkaya pemahaman tidak hanya dari sisi kebijakan dan sains, tetapi juga realitas di lapangan. Salah satu isu yang mengemuka adalah dinamika relawan kebencanaan lintas generasi. Seorang peserta dari Pusdalops BPBD DIY, Arman, menyoroti adanya perbedaan respons antara penanganan gempa Jogja 2006 dan bencana besar lainnya. Ia mengungkapkan kekhawatiran terhadap menurunnya partisipasi relawan, khususnya di kalangan generasi muda saat ini. Selain itu, ia juga mempertanyakan efektivitas berbagai pelatihan yang telah diberikan kepada forum-forum lokal seperti FPRB dan Kampung Tangguh Bencana (Kaltana), yang dinilai belum sepenuhnya berdampak pada kecepatan pelaporan data saat kejadian nyata. Menanggapi hal tersebut, Prof. Eko Teguh Paripurno (Kang ET) menjelaskan bahwa tantangan kebencanaan saat ini tidak bisa disamakan dengan masa lalu. Perubahan sosial, termasuk hadirnya budaya digital dan tren content creator, turut memengaruhi cara masyarakat merespons bencana. “Sekarang kita perlu pendekatan baru yang relevan dengan zamannya, agar semangat kerelawanan tetap hidup,” ujarnya. Topik lain yang menarik perhatian adalah kemungkinan prediksi gempa di masa depan. Pertanyaan ini muncul dari kalangan pegiat sistem peringatan dini yang menyoroti perkembangan teknologi sensor dan kecerdasan buatan. Menjawab hal tersebut, Prof. Dwikorita Karnawati menegaskan bahwa hingga saat ini prediksi gempa bumi secara akurat—baik waktu maupun lokasi—belum dapat dilakukan. Meski demikian, sistem peringatan dini untuk tsunami dan gempa telah berkembang pesat dan mampu memberikan jeda waktu beberapa detik sebelum guncangan terasa. Namun, tantangan terbesar di Indonesia justru terletak pada infrastruktur komunikasi. “Teknologinya sudah ada, tetapi kecepatan jaringan untuk menyampaikan informasi ke masyarakat masih menjadi kendala,” jelasnya. Diskusi juga menguatkan kembali temuan ilmiah terkait Sesar Opak yang memiliki karakter kompleks. Tidak lagi dipandang sebagai satu garis patahan tunggal, sesar ini merupakan sistem yang dapat memperluas zona risiko. Tambahan penjelasan dari Dr. Daryono mempertegas bahwa penentuan periode ulang gempa di wilayah tersebut masih menghadapi keterbatasan data. Ia menyebut bahwa gempa dengan magnitudo sekitar 6 diperkirakan memiliki siklus sekitar 100 tahunan, namun angka tersebut masih bersifat estimasi kasar. Di tengah keterbatasan teknologi, para narasumber sepakat bahwa penguatan kapasitas berbasis lokal tetap menjadi kunci. Prof. Dwikorita menekankan bahwa saat sistem komunikasi tidak berfungsi dalam situasi darurat, maka pengetahuan masyarakat tentang tanda-tanda alam dan kesiapsiagaan dasar menjadi faktor penyelamat utama. “Ketika teknologi tidak bisa diandalkan, kearifan lokal dan literasi masyarakat adalah garis pertahanan terakhir,” tegasnya. Sesi tanya jawab ini sekaligus menegaskan bahwa ketangguhan bencana tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi atau kebijakan semata, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat untuk beradaptasi dengan perubahan zaman, memperkuat solidaritas, serta menjaga pengetahuan lokal sebagai bagian dari sistem mitigasi. Melalui diskusi yang terbuka dan reflektif ini, rangkaian webinar HKB 2026 kembali menegaskan pentingnya kolaborasi antara sains, kebijakan, dan partisipasi masyarakat dalam membangun kesiapsiagaan yang berkelanjutan di Yogyakarta.(fm)   ...

Detail Berita

Sains di Balik Ketangguhan: Prof. Ir. Dwikorita Soroti Mikrozonasi, Megathrust, dan Peringatan Dini di Jogja

Sains di Balik Ketangguhan: Prof. Ir. Dwikorita Soroti Mikrozonasi, Megathrust, dan Peringatan Dini di Jogja

YOGYAKARTA — Pendekatan ilmiah menjadi salah satu pilar utama dalam membangun ketangguhan bencana di Daerah Istimewa Yogyakarta. Hal ini mengemuka dalam Webinar Series peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) 2026 dan refleksi 20 tahun Gempa Jogja, saat Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D. memaparkan pentingnya kebijakan berbasis sains (science-based policy) dalam mitigasi gempa bumi dan tsunami. Dalam paparannya, Dwikorita menegaskan bahwa pascagempa 2006, riset kegempaan di Yogyakarta berkembang pesat, salah satunya melalui pemetaan mikrozonasi yang dilakukan bersama tim akademisi dan BMKG. Pemetaan ini memberikan gambaran detail mengenai tingkat kerawanan di skala lokal, termasuk bagaimana kondisi tanah memengaruhi kekuatan guncangan. “Amplifikasi guncangan tidak hanya ditentukan oleh jarak dari pusat gempa, tetapi sangat dipengaruhi oleh karakter tanah setempat,” jelasnya. Ia mencontohkan wilayah di sepanjang bantaran Sungai Opak yang memiliki tingkat amplifikasi tinggi akibat struktur sedimen yang halus dan lembab. Kondisi ini membuat gelombang gempa menjadi lebih kuat, sehingga kawasan tersebut perlu mendapatkan perhatian khusus dalam perencanaan pembangunan. Menurutnya, hasil mikrozonasi harus menjadi dasar dalam penyusunan tata ruang dan penerapan standar bangunan tahan gempa, terutama untuk infrastruktur vital. Tanpa pendekatan ini, risiko kerusakan akan tetap tinggi meskipun teknologi konstruksi terus berkembang. Selain itu, Dwikorita mengungkapkan bahwa hasil studi terbaru menunjukkan Sesar Opak bukanlah satu patahan tunggal, melainkan sistem sesar kompleks dengan pola flower structure di dekat permukaan. Artinya, zona potensi bahaya bisa lebih luas dari yang selama ini diperkirakan. Ia juga menjelaskan bahwa sesar tersebut termasuk kategori blind fault atau patahan buta, yang tidak selalu tampak hingga ke permukaan, sehingga meningkatkan tantangan dalam identifikasi risiko. Hingga kini, energi yang dilepaskan pascagempa 2006 dinilai belum sepenuhnya setara dengan energi utama, sehingga kewaspadaan terhadap potensi gempa di masa depan tetap diperlukan. Dalam konteks regional, ancaman yang lebih besar datang dari zona subduksi di selatan Jawa. Dwikorita menyebut adanya potensi gempa megathrust hingga magnitudo 8,7 yang dapat memicu tsunami. Bahkan, saat ini diperkirakan berada dalam fase kritis menjelang siklus ulang gempa besar. Sebagai contoh penerapan mitigasi berbasis sains, ia menyoroti pembangunan Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) yang dirancang tahan terhadap gempa besar dan tsunami. Infrastruktur ini dilengkapi dengan lantai mezanin dan lantai dua yang dapat difungsikan sebagai tempat evakuasi sementara bagi ribuan orang. “Ini contoh bagaimana sains diterjemahkan menjadi kebijakan dan desain infrastruktur yang menyelamatkan,” ujarnya. Di sisi lain, penguatan sistem peringatan dini (Early Warning System/EWS) juga terus dilakukan. BMKG telah menambah sensor-sensor yang mampu mendeteksi gempa kecil, karena sering kali terdapat pola peningkatan aktivitas sebelum gempa besar terjadi. Namun demikian, ia mengingatkan bahwa tantangan utama bukan lagi pada teknologi deteksi, melainkan pada kecepatan distribusi informasi kepada masyarakat. Tanpa jaringan komunikasi yang cepat dan andal, peringatan dini tidak akan efektif dalam menyelamatkan nyawa. Menutup paparannya, Dwikorita menekankan pentingnya kepemimpinan daerah yang berpijak pada sains. Menurutnya, keputusan pembangunan dan mitigasi harus didasarkan pada data dan kajian ilmiah agar mampu melindungi masyarakat secara optimal. Paparan ini semakin memperkaya diskusi dalam rangkaian webinar HKB 2026 yang tidak hanya mengedepankan refleksi, tetapi juga mendorong integrasi ilmu pengetahuan, kebijakan, dan partisipasi masyarakat dalam membangun Yogyakarta yang lebih tangguh terhadap bencana.(fm)   ...

Detail Berita

Sebagai bentuk transparansi, kami meyediakan informasi publik sebagai berikut