Musim kemarau tahun 2023 menjadi salah satu periode dengan tingkat kejadian kebakaran hutan dan lahan yang tinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Data Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) BPBD DIY mencatat 183 kejadian kebakaran hutan dan lahan sepanjang Januari hingga 16 Oktober 2023. Sebanyak 145 kejadian terjadi pada periode Agustus hingga Oktober yang bertepatan dengan puncak musim kemarau di wilayah DIY (BPBD DIY, 2023). Rekapitulasi akhir tahun menunjukkan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan mencapai 302 kejadian. Kabupaten Bantul mencatat 106 kejadian, Kabupaten Sleman 62 kejadian, Kabupaten Gunungkidul 61 kejadian, Kabupaten Kulon Progo 54 kejadian, dan Kota Yogyakarta 19 kejadian (BPBD DIY, 2024). Data tersebut menunjukkan bahwa kebakaran hutan dan lahan terjadi pada seluruh wilayah kabupaten dan kota di DIY selama periode kemarau 2023. Peningkatan kejadian kebakaran pada periode tersebut berlangsung bersamaan dengan berkembangnya fenomena El Niño di Samudra Pasifik tropis. El Niño merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di wilayah tengah dan timur Samudra Pasifik yang memengaruhi sirkulasi atmosfer global serta distribusi curah hujan di berbagai wilayah dunia, termasuk Indonesia. BMKG mencatat perkembangan El Niño kategori moderat pada tahun 2023 yang berlangsung bersamaan dengan kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Kondisi tersebut berpengaruh terhadap berkurangnya curah hujan pada sejumlah wilayah Indonesia selama musim kemarau 2023 (BMKG, 2023). Hubungan antara El Niño, IOD, dan kebakaran hutan dan lahan telah banyak dibahas dalam penelitian di Indonesia. Kondisi iklim yang lebih kering berkaitan dengan peningkatan luas area terbakar, sedangkan curah hujan, relative dry spells, ENSO, dan IOD berhubungan dengan probabilitas kemunculan hotspot kebakaran. Temuan tersebut menunjukkan bahwa perubahan kondisi iklim dapat memengaruhi tingkat kerentanan suatu wilayah terhadap kebakaran hutan dan lahan (Nurdiati et al., 2022; Ardiyani et al., 2023). Hubungan tersebut dapat diamati pada wilayah DIY, khususnya Kabupaten Gunungkidul yang memiliki karakteristik bentang alam karst. Karakteristik kawasan karst ditandai oleh tingginya infiltrasi air ke dalam tanah serta terbatasnya ketersediaan air permukaan. Kondisi tersebut memengaruhi kemampuan lingkungan dalam mempertahankan kelembapan selama musim kemarau. Penurunan curah hujan yang berlangsung dalam periode panjang dapat menyebabkan vegetasi lebih rentan mengalami kekeringan dibandingkan pada kondisi normal. Vegetasi berupa rumput musiman, semak belukar, serasah daun, dan tumbuhan bawah yang mengalami pengeringan dapat berfungsi sebagai bahan bakar alami bagi kebakaran vegetasi. Ketersediaan bahan bakar yang kering menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kemudahan terjadinya penyalaan dan penjalaran api pada lahan terbuka maupun kawasan berhutan. Kondisi tersebut tercermin pada kejadian kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Kabupaten Gunungkidul selama musim kemarau 2023. Data BPBD DIY menunjukkan 36 kejadian kebakaran hutan dan lahan terjadi hingga pertengahan Oktober 2023. Rekapitulasi akhir tahun mencatat jumlah kejadian meningkat menjadi 61 kejadian, sehingga menempatkan Gunungkidul sebagai salah satu wilayah dengan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan yang tinggi di DIY selama tahun 2023 (BPBD DIY, 2024). Data kejadian kebakaran tersebut menunjukkan adanya keterkaitan antara kondisi iklim, karakteristik lingkungan, dan keberadaan sumber penyulutan. Penurunan curah hujan yang berkaitan dengan El Niño dan IOD berpengaruh terhadap kondisi vegetasi yang lebih kering. Vegetasi yang mengering meningkatkan ketersediaan bahan bakar alami bagi kebakaran. Aktivitas manusia yang menghasilkan sumber api kemudian dapat memicu terjadinya kebakaran pada lingkungan yang memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi. Hubungan tersebut menunjukkan bahwa fenomena iklim global dapat memengaruhi risiko kebakaran hingga pada skala lokal, termasuk pada kawasan karst di Kabupaten Gunungkidul. Daftar Pustaka Ardiyani, E., Nurdiati, S., Sopaheluwakan, A., Septiawan, P., & Najib, M. K. (2023). Probabilistic hotspot prediction model based on Bayesian inference using precipitation, relative dry spells, ENSO and IOD. Atmosphere, 14(2), 286. BMKG. (2023). Prakiraan Musim Kemarau 2023 di Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. BMKG. (2023). Buletin Hujan Bulanan Edisi Oktober 2023. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. BPBD DIY. (2023). Buletin BPBD DIY November 2023: Data kejadian kebakaran hutan dan lahan Januari–Oktober 2023. BPBD DIY. (2024). Rekapitulasi kejadian kebakaran hutan dan lahan Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2023–2024. Nurdiati, S., Bukhari, F., Julianto, M. T., et al. (2022). The impact of El Niño Southern Oscillation and Indian Ocean Dipole on the burned area in Indonesia. Terrestrial, Atmospheric and Oceanic Sciences, 33(16). ...
Keberhasilan penanganan darurat di lapangan sangat bergantung pada koordinasi yang matang antar instansi. Sinergi nyata ini ditunjukkan melalui kolaborasi lintas sektor antara Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD DIY dan PSC 119 DIY. Kedua lembaga ini mengintegrasikan peran masing-masing demi mewujudkan salah satu pilar utama penanganan bencana, yaitu kesiapsiagaan dan respon cepat saat menghadapi ancaman keselamatan warga di DIY. Komitmen kolaborasi ini dibuktikan dalam penanganan insiden emergency home pada Minggu, 24 Mei 2026 pukul 22.09 WIB di sebuah kos putri kawasan Karangmalang, Depok, Kabupaten Sleman. Laporan kecelakaan seorang penghuni kos yang terjatuh dari tangga lantai dua langsung direspon secara paralel oleh kedua tim. Pembagian peran yang jelas menjadi kunci utama agar tindakan penyelamatan di lokasi kejadian dapat berjalan tanpa tumpang tindih. Dari sektor medis, tim PSC 119 DIY bergerak cepat melakukan pemeriksaan klinis dan stabilitas awal pada korban (19 Tahun). Petugas medis di lapangan mengidentifikasi sejumlah cedera fisik, termasuk pembengkakan serta kecurigaan patah tulang (Susp CF Collum Femur Dextra). Tindakan darurat berupa pemantauan tanda vital, pembidaian pada kaki dan tangan, serta pemberian oksigenasi langsung dilakukan untuk mencegah kondisi pasien memburuk. Sementara itu, penanganan taktis evakuasi didukung penuh oleh personil TRC BPBD DIY yang memiliki keahlian dan peralatan khusus penyelamatan. Mengingat posisi korban berada di lantai dua, personil TRC memanfaatkan scoop stretcher dan empat buah tali webbing untuk memindahkan korban secara aman. Korban kemudian dibawa menggunakan armada Ambulans menuju RS Panti Rapih guna mendapatkan perawatan lanjutan. Intervensi bersama ini menegaskan bahwa pilar penanganan bencana tidak dapat tegak tanpa adanya komitmen kerja sama lintas sektor yang solid. Kecepatan tindakan PSC 119 DIY yang berpadu dengan ketangkasan evakuasi TRC BPBD DIY menjadi potret keberhasilan sistem manajemen kedaruratan di Yogyakarta. Pola koordinasi taktis seperti ini diharapkan terus diperkuat demi menjamin keselamatan masyarakat secara menyeluruh. ...
Sebagai salah satu garda terdepan penanganan darurat BPBD DIY, yakni Tim Reaksi Cepat (TRC) dan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) yang beroperasi 24 jam/7 hari, tampil menonjol dalam Apel Kesiapsiagaan dan Gelar Peralatan pada Sabtu, 23 Mei 2026. Acara ini merupakan puncak peringatan 20 Tahun Gempa Jogja yang diselenggarakan bersama Kemenko PMK di Lapangan Garuda Candi Prambanan. Dalam Peringatan Dua Dasawarsa (20 Tahun) Gempa Bumi Yogyakarta dan Jawa Tengah, BPBD DIY tidak hanya hadir untuk mengenang sejarah kelam 2006 silam. Lebih dari itu, mereka memperlihatkan kesiapan nyata kepada publik. Pada sesi Gelar Peralatan, TRC dan Pusdalops memamerkan berbagai instrumen dan kesiapan armada operasional yang dimiliki. Pameran ini menunjukkan bahwa investasi alat dan kesiapan personel memang ditujukan untuk melindungi masyarakat dari potensi ancaman bencana. Dalam sistem penanggulangan bencana di DIY, TRC dan Pusdalops memegang peranan kunci yang bergerak tanpa mengenal waktu. Pusdalops (Pusat Pengendalian Operasi) merupakan jantung sistem informasi kebencanaan. Bekerja 24 jam tanpa henti, unit ini bertugas memantau potensi ancaman, mengolah data, serta menjadi pusat penerus peringatan dini kepada instansi terkait dan masyarakat. Sedangkan TRC (Tim Reaksi Cepat) merupakan pasukan yang selalu bersiaga penuh untuk terjun langsung ke lapangan. Mereka memiliki tugas berat melakukan kaji cepat, evakuasi korban, serta memberikan rekomendasi penanganan darurat di lokasi bencana. Apel Kesiapsiagaan yang diinisiasi oleh Kemenko PMK ini mengusung semangat kolaborasi pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, media, dan masyarakat. Dalam apel tersebut, TRC dan Pusdalops BPBD DIY mengambil bagian sebagai representasi kehadiran pemerintah yang selalu ada dan siaga. Partisipasi ini sekaligus mempertegas 3 pilar yang digaungkan Kemenko PMK pada peringatan ini: Pemahaman risiko bencana sebagai budaya sehari-hari, Semangat gotong royong lintas sektor, dan Pemanfaatan teknologi dan sistem informasi terintegrasi—di mana Pusdalops menjadi motor penggerak utamanya. Melalui eksistensi TRC dan Pusdalops yang terus mengawal wilayah DIY selama 24 jam penuh, ketangguhan masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana akan terus terjaga dan semakin kuat. ...