Bencana sering datang tanpa tanda, namun kesiapsiagaan adalah pilihan yang bisa dipersiapkan sejak hari ini. Dua puluh tahun pasca Gempa Jogja 2006, kita diingatkan kembali bahwa kekuatan sebuah daerah bukan hanya terletak pada pembangunan fisik, tetapi pada seberapa siap masyarakatnya menghadapi risiko bencana. Melalui kegiatan Sosialisasi Strategi Relawan dalam Manajemen Penanggulangan Bencana Gempa Bumi dan Potensi Bencana Hidrometeorologi di Kalurahan Tambakromo, Ponjong, Gunungkidul, pada Senin (11/05) masyarakat diajak memahami pentingnya mitigasi, budaya siaga, serta peran relawan sebagai garda terdepan dalam penanggulangan bencana. DPRD DIY menegaskan bahwa ketahanan bencana harus dibangun melalui penguatan regulasi, dukungan anggaran berbasis risiko, peningkatan kapasitas masyarakat, dan kolaborasi lintas sektor agar DIY semakin tangguh menghadapi ancaman di masa depan. BMKG Geofisika Sleman menegaskan bahwa wilayah DIY memiliki potensi ancaman gempa bumi dan tsunami akibat keberadaan zona megathrust dan sesar aktif seperti Sesar Opak. Gempa memang tidak dapat diprediksi, namun dampaknya dapat dikurangi melalui mitigasi yang terstruktur, penerapan bangunan tahan gempa, sistem peringatan dini, dan kesiapan masyarakat untuk bertindak cepat saat bencana terjadi. Beliau juga mengingatkan bahwa musim kemarau tahun 2026 diprediksi lebih kering dari kondisi normal, dengan potensi fenomena El Nino lemah hingga moderat setelah pertengahan tahun yang dapat memicu penurunan curah hujan lebih lanjut. Kondisi ini meningkatkan risiko kekeringan meteorologis, kebakaran hutan dan lahan, serta berkurangnya ketersediaan air bersih, sehingga masyarakat diimbau mulai meningkatkan kewaspadaan dan efisiensi penggunaan air sejak dini. Karena pada akhirnya, bencana mungkin tidak bisa kita hindari, tetapi kepanikan, korban jiwa, dan kerugian besar bisa kita kurangi melalui pengetahuan, kesiapan, dan kepedulian bersama. ...
Yogyakarta, 08 Mei 2026. Dua puluh tahun pascagempa besar yang mengguncang Yogyakarta, semangat membangun masyarakat yang tangguh terhadap bencana terus diperkuat melalui ruang-ruang kolaborasi dan pembelajaran. Salah satunya diwujudkan dalam kegiatan Pameran dan Ignite Stage pada Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) IABI ke-9 yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan 20 tahun Gempa Bumi Jogja. Dalam kegiatan ini, BPBD DIY turut ambil bagian bersama berbagai lembaga dan komunitas kebencanaan untuk menghadirkan edukasi, pengalaman, serta praktik penanggulangan bencana yang lebih dekat dengan masyarakat. Pameran dan Ignite Stage tidak hanya menjadi ajang menampilkan program dan capaian lembaga, tetapi juga ruang demokratisasi pengetahuan kebencanaan yang terbuka, inklusif, dan membumi. Melalui kegiatan tersebut, publik diajak memahami bagaimana penanggulangan bencana terus berkembang, mulai dari penguatan mitigasi, kesiapsiagaan masyarakat, hingga inovasi dan kolaborasi lintas sektor. Kehadiran BPBD DIY menjadi bentuk komitmen pemerintah daerah dalam memperluas edukasi kebencanaan sekaligus memperkuat budaya sadar risiko di tengah masyarakat. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia bersama Pemerintah Daerah DIY, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dan Forum Pengurangan Risiko Bencana DIY ini berlangsung pada 6–8 Mei 2026 di lingkungan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Momentum ini menjadi pengingat bahwa pembelajaran dari bencana tidak boleh berhenti pada peristiwa masa lalu, tetapi harus terus diwariskan menjadi pengetahuan bersama untuk membangun Yogyakarta yang semakin tangguh dan siap menghadapi risiko bencana di masa depan. ...
Yogyakarta, 07 Mei 2026. Di tengah aktivitas Gunung Merapi yang masih berada pada Level III (Siaga), kehidupan masyarakat di lereng Merapi tetap berjalan seperti biasa. Namun di balik aktivitas sehari-hari tersebut, berbagai unsur pemerintah, relawan, dan masyarakat terus memperkuat kesiapsiagaan guna mengantisipasi potensi erupsi. Komitmen itu dibahas dalam Rapat Koordinasi Kesiapsiagaan Potensi Erupsi Gunung Merapi Tahun 2026 yang digelar BPBD DIY pada Kamis (07/05) di Ruang Rapat B BPBD DIY bersama BPPTKG, BPBD Sleman, SAR DIY, pemerintah kalurahan kawasan rawan bencana (KRB), serta instansi terkait lainnya. Dalam rapat tersebut, BPPTKG menyampaikan bahwa aktivitas Merapi masih menunjukkan intensitas kegempaan dan guguran yang cukup tinggi. Pemantauan dilakukan secara intensif melalui berbagai metode seperti pengamatan visual, radar deformasi, kamera pemantau, drone thermal, hingga sensor seismik untuk memastikan perkembangan aktivitas gunung dapat terdeteksi secara cepat dan akurat. Meski demikian, masyarakat diminta tetap tenang karena aktivitas erupsi saat ini masih dalam karakter erupsi efusif yang bahayanya dapat dipantau dan diperkirakan. Pemerintah juga terus mengoptimalkan sistem peringatan dini dan penyebaran informasi agar masyarakat dapat merespons dengan cepat apabila terjadi peningkatan aktivitas Merapi. Selain pemantauan gunung, kesiapan di tingkat masyarakat juga menjadi perhatian utama. Pemerintah kalurahan di kawasan KRB melaporkan kesiapan barak pengungsian, logistik, jalur evakuasi, hingga simulasi kebencanaan yang rutin dilakukan setiap tahun. Perlindungan kelompok rentan dan penanganan ternak warga turut menjadi bagian penting dalam skenario evakuasi. Kepala Pelaksana BPBD DIY menegaskan bahwa kesiapsiagaan bukan sekadar menghadapi bencana, tetapi memastikan masyarakat tetap merasa aman dan mampu menjalani aktivitas dengan tenang. Kolaborasi antara pemerintah, relawan, dan masyarakat diharapkan menjadi kekuatan utama dalam membangun ketangguhan menghadapi potensi erupsi Gunung Merapi. ...