Pengalaman magang tidak selalu berhenti pada pengenalan lingkungan kerja. Bagi dua mahasiswa Program Studi Kartografi dan Penginderaan Jauh, Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada (UGM), masa magang selama kurang lebih dua bulan di Bidang Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) BPBD Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi kesempatan untuk menerapkan ilmu pemetaan dalam mendukung upaya penanggulangan kebakaran.
Selama magang, Farah dan Rasya mendapat proyek penyusunan peta bahaya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah DIY. Proyek tersebut memanfaatkan data spasial dari berbagai sumber terbuka yang diolah untuk menggambarkan persebaran tingkat bahaya karhutla di wilayah provinsi.
Proses penyusunan peta melibatkan sejumlah parameter, antara lain kondisi vegetasi, kelembaban vegetasi, suhu permukaan, kemiringan lereng, tutupan lahan, serta jarak terhadap objek tertentu seperti pemukiman dan lahan pertanian. Data tersebut diolah menggunakan teknologi penginderaan jauh dan sistem informasi geografis untuk menghasilkan peta dengan lima klasifikasi tingkat bahaya.
Kualitas data menjadi salah satu perhatian dalam proses pengerjaan. Data spasial yang diperoleh dari sumber terbuka divalidasi menggunakan data kejadian karhutla tahun 2024–2025 yang tercatat dalam aplikasi PAMOR, sistem yang dikelola Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD DIY. Langkah ini dilakukan untuk melihat kesesuaian antara hasil pemetaan dan lokasi kejadian kebakaran yang pernah tercatat.
Pada akhir masa magang, kedua mahasiswa mempresentasikan hasil pekerjaannya di hadapan Kepala Bidang Damkarmat BPBD DIY, analis kebakaran, serta seluruh staf bidang. Presentasi tersebut menjadi kesempatan untuk memaparkan metode yang digunakan, hasil pemetaan, serta sejumlah keterbatasan yang masih perlu diperhatikan dalam pengembangan peta selanjutnya.
Peta bahaya yang dihasilkan merupakan tahap awal dalam penyusunan peta risiko karhutla. Proses berikutnya memerlukan peta kerentanan yang menggambarkan kondisi wilayah dan masyarakat yang berpotensi terdampak. Kedua komponen tersebut kemudian dapat diintegrasikan untuk menyusun peta risiko. Penyusunan peta kerentanan masih memerlukan dukungan data yang lebih terperinci hingga tingkat kalurahan atau kelurahan, sementara data terbuka yang tersedia belum seluruhnya memenuhi kebutuhan tersebut. Keterbatasan waktu magang juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan pengerjaan masih berfokus pada peta bahaya.
Hasil proyek ini menjadi pengalaman penerapan ilmu kartografi dan penginderaan jauh dalam konteks kebencanaan, sekaligus memberikan bahan awal yang dapat ditelaah lebih lanjut oleh Bidang Damkarmat BPBD DIY. Pengembangan berikutnya memerlukan penyempurnaan data, peninjauan metode pembobotan, serta pengujian tingkat ketelitian agar hasil pemetaan dapat semakin sesuai dengan karakteristik wilayah DIY.
Kolaborasi antara mahasiswa dan instansi pemerintah melalui kegiatan magang membuka ruang bagi penerapan ilmu akademik untuk menjawab kebutuhan nyata di lapangan. Proses ini juga menunjukkan bahwa penyusunan informasi kebencanaan membutuhkan tahapan pengolahan, validasi, dan evaluasi sebelum hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan pendukung perencanaan pencegahan dan kesiapsiagaan.

0 Komentar