Berdasarkan informasi dari BMKG, pada tahun 2026 ini kita dihadapkan pada kondisi El Niño dimana kekeringan yang yang terjadi lebih panjang dan lebih kering dari tahun sebelumnya. Musim hujan juga diperkirakan akan datang lebih lambat dan akan terjadi dengan durasi yang lebih singkat dibandingkan biasanya. Kondisi ini membuat wilayah di kawasan hutan di DIY menjadi sangat kering dan rentan terjadi kebakaran hutan lahan.
El Niño sendiri merupakan fenomena iklim yang ditandai oleh peningkatan suhu permukaan laut di wilayah tengah dan timur Samudra Pasifik yang kemudian memengaruhi pola atmosfer dan curah hujan di berbagai wilayah dunia, termasuk Indonesia dan khususnya di wilayah DIY. Pada periode El Niño, sebagian besar wilayah yang ada Indonesia, khususnya wilayah selatan dan timur, dapat mengalami penurunan curah hujan dibandingkan kondisi normal. Kondisi tersebut dapat menyebabkan musim kemarau menjadi lebih kering dan bisa berlangsung lebih panjang.
Ketika curah hujan menurun dan hari tanpa hujan semakin panjang, kelembapan lingkungan ikut berkurang. Vegetasi menjadi lebih kering sehingga lebih mudah terbakar dan api dapat menyebar dengan lebih cepat. Di wilayah DIY sendiri didominasi dengan jenis vegetasi pohon Kayu Putih (Melaleuca leucadendra), Jati (Tectona grandis), dan Pinus (Pinus merkusii). Ketiga jenis vegetasi tersebut menjadi lebih kering saat kemarau, namun tingkat kerawanan dan cara mereka merespons api sangat berbeda akibat karakteristik biologis dan kandungan zat di dalamnya.
Dengan kondisi vegetasi yang sangat kering akan mudah terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tentunya dengan berbagai pemicu. Agar terjadi kebakaran, tetap diperlukan sumber penyalaan. Sumber penyalaan yang menyebabkan karhutla dalam banyak kejadian berkaitan dengan aktivitas manusia, baik yang disengaja maupun tidak disengaja. Aktivitas tersebut antara lain pembukaan dan pembersihan lahan dengan cara membakar, pembakaran yang kemudian lepas kendali, serta kelalaian yang menimbulkan percikan atau sumber api di kawasan yang sedang kering.
Dengan demikian El Niño dapat menjadi faktor penguat yang dapat menciptakan kondisi lingkungan yang mudah terbakar. Sehingga karhutla merupakan hasil interaksi antara faktor iklim, kondisi lingkungan, dan aktivitas manusia. Perspektif ini penting dalam pengelolaan risiko bencana karena menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak cukup hanya berfokus pada fenomena iklim. Karena ketika prakiraan terkait kondisi iklim yang kering akan terjadi, semestinya dilakukan upaya pencegahan, terutama di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap karhutla. Pengawasan terhadap aktivitas pembakaran lahan, peningkatan kesiapsiagaan, serta edukasi kepada masyarakat menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko.
Pada akhirnya, karhutla merupakan contoh nyata bahwa bencana dapat muncul dari pertemuan antara bahaya alam yang ditunjukkan dari kondisi iklim dengan aktivitas manusia dan kerentanan lingkungan. El Niño dapat membuat lingkungan menjadi lebih mudah terbakar, tetapi bagaimana kondisi tersebut berkembang menjadi kebakaran sangat dipengaruhi oleh tindakan manusia dan pengelolaan lingkungan. Karena itu, menghadapi risiko karhutla bukan hanya persoalan menghadapi fenomena iklim, tetapi juga bagaimana manusia mengelola lahan, mencegah sumber api, dan meningkatkan kesiapsiagaan sebelum kondisi kering mencapai tingkat yang kritis. (MN)

0 Komentar