Potensi kekeringan masih perlu diwaspadai masyarakat Sleman di tengah kondisi iklim yang dipengaruhi El Niño dengan intensitas sangat kuat. Menyikapi kondisi tersebut, BPBD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mendorong relawan dan masyarakat untuk memperkuat kesiapsiagaan serta memanfaatkan informasi iklim sebagai dasar dalam mengantisipasi risiko bencana.
Upaya tersebut dilakukan melalui Sosialisasi Strategi Relawan dan Masyarakat dalam Manajemen Bencana yang digelar di Kalurahan Sidomulyo, Kapanewon Godean, Kabupaten Sleman, Rabu (16/9/2026). Kegiatan menghadirkan Ibu Indah Retno Wulan, S.P., M.Sc., dari BMKG Stasiun Klimatologi Kelas II DIY serta Bapak Arif Kurniawan, S.Ag., M.H., Anggota Komisi A DPRD DIY.
Dalam pemaparannya, BMKG menjelaskan bahwa kekeringan tidak hanya ditandai dengan berkurangnya hujan. Kondisi tersebut dapat berkembang menjadi kekeringan hidrologis, pertanian, hingga sosial ekonomi. Karena itu, pengenalan terhadap kondisi iklim dan pemantauan tanda-tanda kekeringan menjadi bagian penting dalam kesiapsiagaan masyarakat.
BMKG menyampaikan bahwa sejumlah fenomena atmosfer dan laut turut memengaruhi kondisi iklim Indonesia, di antaranya El Niño, monsun, MJO, Kelvin Wave, dan IOD. Berdasarkan pemantauan BMKG, El Niño pada 2026 berada pada intensitas sangat kuat dan diprediksi bertahan hingga awal 2027.
Untuk mendukung langkah antisipasi, masyarakat dapat memanfaatkan sistem peringatan dini kekeringan meteorologis BMKG yang menggunakan indikator Hari Tanpa Hujan (HTH) dan probabilitas curah hujan dasarian. Informasi tersebut menjadi dasar penentuan tingkat peringatan Waspada, Siaga, dan Awas.
Khusus wilayah Sleman, curah hujan pada September hingga Oktober 2026 diprediksi masih rendah dengan sifat hujan umumnya Bawah Normal. Awal musim hujan 2026/2027 diprediksi berlangsung pada November dasarian III hingga Desember dasarian I, mundur sekitar tiga dasarian dari kondisi normal. Musim hujan diprediksi berlangsung 13–15 dasarian dengan puncak pada Februari 2027.
Selain pemanfaatan informasi iklim, kesiapsiagaan juga membutuhkan kolaborasi. Dalam kegiatan tersebut disampaikan pentingnya penguatan koordinasi lintas sektor dan keterlibatan relawan, termasuk mendorong penanggulangan bencana berbasis kalurahan sesuai potensi dan kebutuhan masing-masing wilayah.
Melalui kegiatan ini, BPBD DIY mendorong masyarakat untuk tidak hanya mengenali potensi kekeringan, tetapi juga menjadikan informasi iklim sebagai bagian dari pengambilan langkah antisipasi. Dengan informasi yang dipantau secara berkala, koordinasi yang kuat, dan keterlibatan aktif masyarakat, kesiapsiagaan bencana dapat dibangun sejak tingkat kalurahan.
Masyarakat diharapkan terus mengikuti informasi iklim dari BMKG Stasiun Klimatologi DIY dan meningkatkan kesiapsiagaan sesuai kondisi serta potensi bencana di wilayah masing-masing.

0 Komentar