Yogyakarta — Kawasan geosite tidak hanya menyimpan jejak sejarah bumi, tetapi juga menjadi ruang hidup masyarakat dan tujuan wisata yang perlu dikelola dengan memperhatikan risiko bencana. Maka penguatan kapasitas masyarakat di sekitar geosite menjadi bagian penting dalam membangun kawasan yang aman, tangguh, dan tetap lestari.
Hal tersebut menjadi fokus Kegiatan Sosialisasi Strategi Relawan dan Masyarakat dalam Manajemen Kebencanaan Berbasis Masyarakat Tahun Anggaran 2026 yang dilaksanakan melalui tema Geosite Tangguh Bencana (GESTANA).
Kegiatan ini merupakan kolaborasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY dan UPN “Veteran” Yogyakarta untuk mendorong keterlibatan masyarakat dalam pengurangan risiko bencana, khususnya di kawasan yang memiliki nilai penting sebagai geosite.
Melalui tema GESTANA, penguatan tidak hanya diarahkan pada pemahaman mengenai ancaman bencana, tetapi juga pada kemampuan masyarakat untuk mengenali risiko, melakukan pencegahan, memahami sistem peringatan dini, menyiapkan evakuasi mandiri, serta ikut menjaga kelestarian kawasan.
Beberapa lokasi yang menjadi bagian dari kegiatan tersebut antara lain Gumuk Pasir di Kalurahan Parangtritis, Bantul; Lava Bantal di Kalurahan Kalitirto, Berbah; serta Perbukitan Intrusi Godean di Kalurahan Sidoluhur dan Sidorejo, Sleman.
Masing-masing kawasan memiliki karakter dan potensi risiko yang berbeda. Oleh karena itu, strategi kesiapsiagaan perlu disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan aktivitas masyarakat di setiap lokasi.
Di Gumuk Pasir Parangtritis, misalnya, keberadaan geosite beriringan dengan aktivitas masyarakat dan pariwisata. Kesadaran terhadap risiko bencana menjadi penting agar masyarakat maupun pengunjung memahami kondisi lingkungan dan mengetahui tindakan yang perlu dilakukan apabila terjadi keadaan darurat.
Sementara itu, di Lava Bantal Berbah, penguatan masyarakat diarahkan pada pemahaman terhadap karakter kawasan, potensi ancaman, sistem peringatan dini, hingga rencana evakuasi. Masyarakat juga didorong untuk berperan dalam pengkajian risiko secara partisipatif dan pemanfaatan keberadaan geosite sebagai bagian dari upaya pengurangan risiko bencana.
Adapun di kawasan Perbukitan Intrusi Godean, perhatian juga diberikan pada upaya menjaga kelestarian kawasan. Pengurangan risiko bencana perlu berjalan bersama dengan pengelolaan lingkungan, antara lain melalui pemeliharaan vegetasi lereng, pengelolaan air permukaan dan drainase, pemetaan kawasan rawan, serta penyiapan jalur dan lokasi evakuasi.
Relawan dan Masyarakat sebagai Penggerak Ketangguhan Bencana
Tema Geosite Tangguh Bencana menempatkan relawan dan masyarakat sebagai bagian penting dalam membangun kesiapsiagaan.
Masyarakat tidak hanya diposisikan sebagai penerima informasi kebencanaan. Mereka diharapkan mampu mengenali tanda-tanda awal ancaman, memahami tindakan perlindungan, melakukan evakuasi secara mandiri, serta membantu kelompok rentan dan penyandang disabilitas ketika terjadi keadaan darurat.
Kesiapsiagaan juga membutuhkan kesepakatan bersama. Jalur evakuasi dan lokasi pengungsian perlu diketahui masyarakat, mudah dijangkau, aman dari ancaman, serta memiliki kapasitas yang memadai.
Pada saat yang sama, masyarakat memiliki peran dalam menjaga geosite. Aktivitas pembangunan maupun pemanfaatan kawasan perlu memperhatikan kondisi lingkungan dan karakter geologi agar nilai warisan bumi tetap terjaga.
Melalui Kegiatan Sosialisasi Strategi Relawan dan Masyarakat dalam Manajemen Kebencanaan Berbasis Masyarakat Tahun Anggaran 2026 dengan tema Geosite Tangguh Bencana, BPBD DIY dan UPN “Veteran” Yogyakarta mendorong agar pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti pada sosialisasi.
Penguatan tersebut diharapkan dapat dilanjutkan melalui praktik di lapangan, seperti pemetaan risiko secara partisipatif, penguatan sistem peringatan dini, penyusunan rencana evakuasi, latihan kesiapsiagaan, serta pembagian peran antara pemerintah, masyarakat, relawan, pengelola geosite, perguruan tinggi, dan berbagai pihak terkait.
Dengan demikian, geosite tidak hanya menjadi tempat untuk mengenal sejarah bumi, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun masyarakat yang lebih siap, mandiri, dan tangguh menghadapi bencana.(fm)

0 Komentar