YOGYAKARTA — Narasi tentang ketangguhan tidak hanya berbicara soal infrastruktur dan kebijakan, tetapi juga tentang ingatan kolektif. Hal itu mengemuka dalam Webinar Series peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) 2026 dan refleksi 20 tahun Gempa Jogja, saat Prof. Dr. Eko Teguh Paripurno atau yang akrab disapa Kang ET menyampaikan materi bertajuk “Jogja Ora Lali: Merawat Ingatan, Menguatkan Ketangguhan”.
Dalam forum yang digelar Kamis (16/4/2026) tersebut, Kang ET mengajak peserta untuk melihat kembali peristiwa gempa 27 Mei 2006 sebagai titik nol transformasi. Menurutnya, gempa yang berlangsung kurang dari satu menit itu menjadi momen kesadaran kolektif bahwa masyarakat hidup berdampingan dengan risiko bencana.
“Dari situlah akar ketangguhan tumbuh—kesadaran bahwa kita harus mengelola risiko dari bawah, dari masyarakat itu sendiri,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa salah satu tantangan terbesar dalam pengurangan risiko bencana adalah amnesia kolektif. Seiring waktu, masyarakat cenderung melupakan pengalaman bencana, sehingga kewaspadaan menurun. Padahal, ingatan terhadap bencana seharusnya tidak dipandang sebagai trauma, melainkan sebagai instrumen mitigasi yang memperkuat kesiapsiagaan.
Kang ET mendefinisikan ketangguhan sebagai kemampuan untuk menyerap guncangan, beradaptasi terhadap perubahan—termasuk dinamika kepadatan penduduk—serta melakukan transformasi menuju kondisi yang lebih aman.
Dalam paparannya, ia juga menekankan pentingnya menempatkan masyarakat sebagai subjek utama dalam penanggulangan bencana. Warga tidak boleh hanya menjadi penerima bantuan, tetapi harus dilibatkan dalam pengambilan keputusan yang menyangkut keselamatan mereka sendiri.
Ia mencontohkan kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono X pascagempa 2006 yang dinilai mampu menjaga keseimbangan antara bantuan eksternal dan kekuatan lokal, sehingga proses pemulihan tetap menghormati martabat masyarakat.
Lebih jauh, Kang ET menyoroti kekuatan modal sosial dan budaya Yogyakarta sebagai fondasi utama ketangguhan. Nilai-nilai seperti dono roso dono weweh (berbagi rasa dan sumber daya), semangat gotong royong, serta gumbregah atau bangkit dengan kesadaran menjadi energi kolektif yang mempercepat pemulihan.
“Yang paling penting bukan sekadar kehilangan harta, tetapi bagaimana jiwa tetap kuat untuk bangkit bersama,” ungkapnya, merujuk pada filosofi lokal tentang ketangguhan mental masyarakat.
Untuk memastikan ingatan tetap terjaga, ia mendorong pembangunan infrastruktur memori, seperti monumen dan museum kebencanaan. Keberadaan titik-titik seperti Monumen Potrobayan atau museum gempa dinilai penting sebagai ruang edukasi publik agar generasi berikutnya tidak melupakan risiko yang ada.
Menatap ke depan, Kang ET menawarkan sejumlah langkah strategis, mulai dari integrasi manajemen risiko dalam perencanaan pembangunan, regenerasi relawan, hingga inovasi yang inklusif bagi kelompok rentan. Ia juga menekankan pentingnya memanfaatkan kearifan lokal sebagai bagian dari strategi mitigasi, serta memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat agar mampu pulih secara mandiri.
Paparan ini melengkapi rangkaian diskusi dalam webinar yang juga mengangkat pentingnya aksi nyata, termasuk ajakan untuk mengikuti simulasi evakuasi mandiri serentak pada 26 April pukul 10.00 WIB, sebagaimana menjadi bagian dari kampanye nasional HKB 2026.
Melalui refleksi ini, satu pesan kuat mengemuka: ketangguhan tidak hanya dibangun dari teknologi dan kebijakan, tetapi juga dari kemampuan masyarakat untuk mengingat, belajar, dan bertindak. Bagi Kang ET, merawat ingatan adalah investasi penting untuk memastikan bahwa 20 tahun ke depan, masyarakat Yogyakarta semakin siap menghadapi risiko bencana.(fm)

0 Komentar