Di tengah tingginya risiko bencana di kawasan perkotaan, inovasi berbasis teknologi mulai menjadi bagian penting dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat. Penelitian yang dilakukan mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) bersama BPBD DIY menunjukkan bahwa integrasi aplikasi PAMOR (Peta Ancaman, Mitigasi, dan Operasional Respon) dengan peta titik kumpul evakuasi mampu meningkatkan kesiapan warga menghadapi bencana di Kelurahan Demangan, Kemantren Gondokusuman, Kota Yogyakarta. Kawasan padat penduduk dengan akses jalan sempit seperti Demangan dinilai membutuhkan sistem mitigasi yang cepat, akurat, dan mudah dipahami masyarakat.
Melalui pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG), penelitian ini memetakan enam titik kumpul evakuasi utama yang tersebar di wilayah Demangan, Sapen, dan Pengok. Aplikasi PAMOR digunakan untuk mengidentifikasi zona rawan gempa, banjir genangan, hingga jalur evakuasi prioritas secara real-time. Hasil penelitian menunjukkan kawasan RW IX, X, dan XI di wilayah Pengok menjadi area prioritas karena memiliki risiko banjir lebih tinggi. Selain membantu pemetaan ancaman, integrasi teknologi ini juga mempermudah masyarakat dan relawan dalam memahami jalur penyelamatan saat kondisi darurat terjadi.
Meski demikian, penelitian juga menemukan tantangan dalam penerapan sistem digital kebencanaan di tingkat masyarakat. Tingkat penggunaan aplikasi PAMOR oleh pengurus wilayah masih tergolong rendah akibat keterbatasan literasi digital dan minimnya sosialisasi. Karena itu, peneliti merekomendasikan pembentukan Tim Siaga Bencana Berbasis Teknologi (TSBT) di tingkat kelurahan agar pembaruan data dan pelatihan kesiapsiagaan dapat dilakukan secara berkelanjutan. Penelitian ini menegaskan bahwa kolaborasi antara teknologi, pemetaan spasial, dan keterlibatan masyarakat menjadi kunci penting dalam membangun Yogyakarta yang lebih tangguh menghadapi bencana.

0 Komentar