YOGYAKARTA — Sesi tanya jawab dalam Webinar Series peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) 2026 dan refleksi 20 tahun Gempa Jogja berlangsung dinamis, menghadirkan beragam perspektif kritis dari peserta dan tanggapan langsung para narasumber. Dipandu moderator Budi Santoso, diskusi ini memperkaya pemahaman tidak hanya dari sisi kebijakan dan sains, tetapi juga realitas di lapangan.
Salah satu isu yang mengemuka adalah dinamika relawan kebencanaan lintas generasi. Seorang peserta dari Pusdalops BPBD DIY, Arman, menyoroti adanya perbedaan respons antara penanganan gempa Jogja 2006 dan bencana besar lainnya. Ia mengungkapkan kekhawatiran terhadap menurunnya partisipasi relawan, khususnya di kalangan generasi muda saat ini.
Selain itu, ia juga mempertanyakan efektivitas berbagai pelatihan yang telah diberikan kepada forum-forum lokal seperti FPRB dan Kampung Tangguh Bencana (Kaltana), yang dinilai belum sepenuhnya berdampak pada kecepatan pelaporan data saat kejadian nyata.
Menanggapi hal tersebut, Prof. Eko Teguh Paripurno (Kang ET) menjelaskan bahwa tantangan kebencanaan saat ini tidak bisa disamakan dengan masa lalu. Perubahan sosial, termasuk hadirnya budaya digital dan tren content creator, turut memengaruhi cara masyarakat merespons bencana.
“Sekarang kita perlu pendekatan baru yang relevan dengan zamannya, agar semangat kerelawanan tetap hidup,” ujarnya.
Topik lain yang menarik perhatian adalah kemungkinan prediksi gempa di masa depan. Pertanyaan ini muncul dari kalangan pegiat sistem peringatan dini yang menyoroti perkembangan teknologi sensor dan kecerdasan buatan.
Menjawab hal tersebut, Prof. Dwikorita Karnawati menegaskan bahwa hingga saat ini prediksi gempa bumi secara akurat—baik waktu maupun lokasi—belum dapat dilakukan. Meski demikian, sistem peringatan dini untuk tsunami dan gempa telah berkembang pesat dan mampu memberikan jeda waktu beberapa detik sebelum guncangan terasa.
Namun, tantangan terbesar di Indonesia justru terletak pada infrastruktur komunikasi. “Teknologinya sudah ada, tetapi kecepatan jaringan untuk menyampaikan informasi ke masyarakat masih menjadi kendala,” jelasnya.
Diskusi juga menguatkan kembali temuan ilmiah terkait Sesar Opak yang memiliki karakter kompleks. Tidak lagi dipandang sebagai satu garis patahan tunggal, sesar ini merupakan sistem yang dapat memperluas zona risiko.
Tambahan penjelasan dari Dr. Daryono mempertegas bahwa penentuan periode ulang gempa di wilayah tersebut masih menghadapi keterbatasan data. Ia menyebut bahwa gempa dengan magnitudo sekitar 6 diperkirakan memiliki siklus sekitar 100 tahunan, namun angka tersebut masih bersifat estimasi kasar.
Di tengah keterbatasan teknologi, para narasumber sepakat bahwa penguatan kapasitas berbasis lokal tetap menjadi kunci. Prof. Dwikorita menekankan bahwa saat sistem komunikasi tidak berfungsi dalam situasi darurat, maka pengetahuan masyarakat tentang tanda-tanda alam dan kesiapsiagaan dasar menjadi faktor penyelamat utama.
“Ketika teknologi tidak bisa diandalkan, kearifan lokal dan literasi masyarakat adalah garis pertahanan terakhir,” tegasnya.
Sesi tanya jawab ini sekaligus menegaskan bahwa ketangguhan bencana tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi atau kebijakan semata, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat untuk beradaptasi dengan perubahan zaman, memperkuat solidaritas, serta menjaga pengetahuan lokal sebagai bagian dari sistem mitigasi.
Melalui diskusi yang terbuka dan reflektif ini, rangkaian webinar HKB 2026 kembali menegaskan pentingnya kolaborasi antara sains, kebijakan, dan partisipasi masyarakat dalam membangun kesiapsiagaan yang berkelanjutan di Yogyakarta.(fm)

0 Komentar