Sesi diskusi dan tanya jawab menjadi bagian yang paling dinamis dalam webinar kebencanaan yang diselenggarakan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah DIY dalam rangka memperingati dua dekade Gempa Yogyakarta 2006. Kegiatan yang digelar pada Rabu, 11 Maret 2026 ini merupakan bagian dari rangkaian Webinar Series Kebencanaan yang bertujuan merefleksikan pembelajaran penanggulangan gempa sekaligus memperkuat kesiapsiagaan masyarakat.
Webinar menghadirkan sejumlah narasumber dari unsur pemerintah dan komunitas kebencanaan, di antaranya Pangarso Suryotomo selaku Pelaksana Tugas Deputi Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Agustinus Ruruh Haryata selaku Kepala Pelaksana BPBD DIY, Daryono, serta R. Tito Asung Kumoro Wicaksono, Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD DIY.
Pertanyaan Peserta Membuka Diskusi
Diskusi dimulai ketika moderator membacakan sejumlah pertanyaan yang masuk melalui kolom chat di YouTube dan Zoom. Salah satu peserta dari Jayapura menanyakan cara mengetahui zona lemah gempa di wilayah lain. Pertanyaan lain menyoroti kebijakan pemerintah yang dinilai lebih menonjol pada pengembangan sistem peringatan dini (Early Warning System/EWS) dibandingkan penguatan struktur bangunan tahan gempa.
Pertanyaan tersebut memicu diskusi lebih luas mengenai pendekatan mitigasi bencana, khususnya keseimbangan antara teknologi peringatan dini dan upaya pengurangan risiko melalui pembangunan infrastruktur yang aman.
Sorotan pada Implementasi dan Praktik Nyata
Ketika sesi raise hand dibuka, beberapa peserta menyampaikan pandangan secara langsung kepada para narasumber.
Salah satunya disampaikan oleh Pak Aang dari BPBD DIY yang menyoroti bahwa peta potensi bencana sebenarnya sudah tersedia. Namun, tantangan utama terletak pada implementasi aturan di lapangan. Ia menekankan pentingnya pengawasan yang lebih tegas terhadap pembangunan rumah masyarakat agar sesuai dengan standar bangunan tahan gempa. Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya edukasi komunikasi konvensional, seperti radio komunikasi, sebagai alternatif saat jaringan komunikasi terganggu ketika terjadi bencana.
Dari kalangan akademisi, Pak ET mengajak seluruh unsur Pentahelix—pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media—untuk bergerak dari sekadar berbagi pengetahuan menuju praktik nyata. Ia mengusulkan adanya audit atau penilaian kelayakan bangunan publik dan fasilitas sosial guna memastikan ketahanannya terhadap potensi gempa, terutama yang berada di sekitar jalur patahan aktif.
Sementara itu, peserta lain, Pak Maruf, menyoroti pentingnya pemutakhiran data sesar aktif di Yogyakarta, termasuk keberadaan Sesar Mataram. Ia juga menanyakan bagaimana cara menyampaikan informasi risiko gempa kepada masyarakat tanpa menimbulkan ketakutan atau kepanikan berlebihan.
Penjelasan Narasumber
Menanggapi hal tersebut, Daryono menegaskan bahwa penetapan suatu patahan sebagai sesar aktif harus didasarkan pada data geofisika yang kredibel, seperti nilai slip rate dan aktivitas seismik. Menurutnya, ketepatan data sangat penting agar informasi yang disampaikan kepada publik tidak menimbulkan misinformasi.
Sementara itu, R. Tito Asung Kumoro Wicaksono menambahkan bahwa dari sisi praktik di lapangan, tantangan terbesar adalah memastikan standar teknis benar-benar diterapkan dalam pembangunan. Ia menekankan bahwa komitmen bersama antara pemerintah, pengembang, dan masyarakat diperlukan agar kualitas konstruksi bangunan dapat memenuhi standar keamanan terhadap gempa.
Penutup dengan Kuis Interaktif
Setelah sesi diskusi formal berakhir, panitia menutup kegiatan dengan kuis interaktif melalui platform Kahoot yang diikuti oleh ratusan peserta. Kuis tersebut dirancang untuk menguji pemahaman peserta terhadap materi yang telah disampaikan selama webinar. Panitia juga menyediakan doorprize bagi peserta dengan nilai tertinggi sehingga suasana penutup berlangsung meriah.
Melalui diskusi yang berlangsung hangat tersebut, para narasumber menegaskan bahwa refleksi 20 tahun gempa Jogja bukan sekadar mengenang peristiwa masa lalu, tetapi menjadi momentum untuk memperkuat mitigasi, meningkatkan literasi kebencanaan, serta memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam upaya membangun masyarakat yang lebih tangguh menghadapi bencana.(fm)

0 Komentar