Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Bantul pada akhir Februari 2026 memicu terjadinya gerakan tanah di dua kawasan permukiman, yakni Perumahan Graha Sedayu Sejahtera di Kalurahan Argosari, Kapanewon Sedayu dan Perumahan Taman Semesta Asri di Dusun Guwo, Kalurahan Triwidadi, Kapanewon Pajangan. Menindaklanjuti kejadian tersebut, tim gabungan yang terdiri dari BPBD DIY, BPBD Kabupaten Bantul, Tim Penyelidikan Kebencanaan Geologi BPPTKG Yogyakarta, serta unsur pemerintah kalurahan dan relawan setempat melakukan peninjauan lapangan guna mengidentifikasi penyebab serta potensi risiko lanjutan di kedua lokasi.
Di Perumahan Graha Sedayu Sejahtera, gerakan tanah berupa amblesan terjadi pada area yang sebelumnya merupakan lembah yang dimanfaatkan sebagai tempat penimbunan limbah media tanam jamur merang sebelum kawasan tersebut dikembangkan menjadi perumahan. Setelah proses penimbunan, lahan diratakan melalui metode cut and fill sebelum dibangun rumah, jalan lingkungan, serta fasilitas ibadah. Kondisi material timbunan yang mudah melapuk dan berongga, ditambah dengan infiltrasi air hujan pada lapukan batu gamping formasi Sentolo, diduga menjadi salah satu faktor yang memicu penurunan permukaan tanah. Dampaknya, beberapa rumah warga serta fasilitas lingkungan mengalami retakan, sementara jalan lingkungan juga mengalami ambles di beberapa titik.
Sementara itu di Perumahan Taman Semesta Asri, indikasi gerakan tanah ditandai dengan munculnya retakan pada bangunan dan jalan lingkungan, amblesan pada area urugan, serta rembesan air pada lereng. Pada lokasi ini, kondisi tanah berupa lapukan batu napal yang bersifat lempungan membuat tanah mudah jenuh air ketika curah hujan tinggi. Selain itu, perubahan sistem hidrologi akibat proses pemotongan dan pengurugan lahan (cut and fill) serta sistem drainase lingkungan yang kurang optimal turut mempercepat kejenuhan tanah. Di beberapa titik bahkan mulai terlihat tanda rayapan tanah (creeping) yang berpotensi berkembang menjadi longsor apabila hujan terus berlangsung.
Sebagai langkah awal penanganan, warga yang rumahnya terdampak telah dievakuasi sementara ke lokasi yang lebih aman. Tim di lapangan juga memasang tanda peringatan di sekitar area retakan dan melakukan pengalihan aliran air menggunakan saluran darurat untuk mengurangi masuknya air ke dalam material tanah yang labil. Hingga saat ini, pihak terkait masih menunggu hasil kajian teknis lebih lanjut dari Badan Geologi melalui BPPTKG Yogyakarta untuk menentukan langkah penanganan yang lebih komprehensif.
BPBD DIY mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di kawasan lereng atau area hasil urugan, agar meningkatkan kewaspadaan terutama saat terjadi hujan dengan durasi lama. Beberapa tanda awal gerakan tanah yang perlu diwaspadai antara lain munculnya retakan pada tanah atau bangunan, jalan lingkungan yang mulai ambles, pintu dan jendela rumah yang sulit ditutup, serta munculnya rembesan air pada lereng. Apabila tanda-tanda tersebut muncul, warga diharapkan segera melaporkannya kepada pemerintah setempat atau BPBD agar dapat dilakukan penanganan lebih cepat dan risiko yang lebih besar dapat dicegah.

0 Komentar