Pemerintah Daerah melalui kajian teknis kebencanaan terus melakukan pemetaan risiko gerakan tanah di wilayah Kabupaten Bantul sebagai upaya penguatan mitigasi bencana. Hasil kajian menunjukkan bahwa tingkat kerentanan gerakan tanah di beberapa wilayah, khususnya di Kecamatan Imogiri, Sedayu, dan Pajangan, memiliki variasi yang dipengaruhi oleh kondisi geologi, topografi, serta faktor hidrometeorologi.
Berdasarkan analisis Zona Kerentanan Gerakan Tanah (ZKGT), Kecamatan Imogiri memiliki tingkat kerentanan menengah hingga tinggi. Beberapa lokasi seperti Dusun Wunut masuk dalam kategori tinggi, sedangkan Dusun Sompok berada pada kategori menengah. Sementara itu, Kecamatan Sedayu didominasi oleh tingkat kerentanan sangat rendah hingga rendah, antara lain di Dusun Jambon dan Dusun Kepuhan. Adapun Kecamatan Pajangan menunjukkan tingkat kerentanan rendah hingga menengah, dengan Dusun Guwo sebagai salah satu wilayah dengan tingkat kerawanan menengah.
Kajian tersebut mengidentifikasi sejumlah faktor utama penyebab gerakan tanah, di antaranya kemiringan lereng yang relatif curam, bahkan mencapai lebih dari 30 persen di beberapa lokasi. Selain itu, intensitas curah hujan yang tinggi pada periode November 2025 dan Februari 2026 turut meningkatkan potensi terjadinya longsor akibat kejenuhan tanah.
Dari aspek geologi, kondisi batuan yang telah mengalami pelapukan, seperti breksi vulkanik, berkontribusi terhadap penurunan kestabilan lereng. Pada beberapa lokasi, terutama di sekitar aliran Sungai Oyo, pelapukan batuan disertai erosi aliran sungai menyebabkan penurunan muka tanah serta potensi jatuhan batu (rock fall). Selain itu, keberadaan lapisan batupasir halus dan batulempung juga berperan sebagai bidang gelincir yang memicu terjadinya longsor.
Faktor lain yang turut memengaruhi adalah kondisi drainase yang belum optimal, sehingga menyebabkan akumulasi air dan meningkatkan kejenuhan tanah. Di sisi lain, aktivitas pembangunan seperti penggunaan tanah urug yang tidak dipadatkan secara baik juga meningkatkan risiko ketidakstabilan lereng, khususnya di kawasan permukiman.
Sebagai tindak lanjut, telah disusun sejumlah rekomendasi teknis penanganan sesuai dengan karakteristik masing-masing wilayah. Di Kecamatan Imogiri, langkah yang direkomendasikan meliputi penguatan struktur jalan, penataan permukiman di kawasan sempadan sungai, serta pembatasan pembangunan pada area rawan longsor. Untuk lokasi dengan potensi tinggi, seperti Dusun Wunut, relokasi bangunan yang terdampak menjadi salah satu langkah prioritas.
Di Kecamatan Sedayu, upaya mitigasi difokuskan pada relokasi bangunan yang telah mengalami kerusakan, penguatan lereng melalui rekayasa teknis, serta pembangunan sistem drainase untuk mengendalikan aliran air. Penanganan tambahan berupa penutupan dasar kolam agar kedap air juga direkomendasikan guna mencegah rembesan yang dapat memperlemah struktur tanah.
Sementara itu, di Kecamatan Pajangan, penanganan dilakukan melalui pelandaian lereng, pemadatan tanah pada area bekas longsor, serta pembangunan dan perbaikan sistem drainase untuk mengurangi kejenuhan air tanah. Relokasi juga direkomendasikan bagi bangunan yang berada pada zona dengan tingkat kerentanan tinggi.
Secara umum, upaya mitigasi gerakan tanah di Kabupaten Bantul perlu didukung melalui pemasangan rambu peringatan kawasan rawan longsor, penyediaan jalur evakuasi, serta peningkatan sinergi antar pemangku kepentingan dalam penanggulangan bencana. Edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat juga menjadi langkah penting untuk meningkatkan pemahaman terhadap tanda-tanda awal gerakan tanah.
Selain itu, seluruh kegiatan pembangunan diharapkan mengacu pada Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) serta mempertimbangkan aspek mitigasi bencana geologi. Masyarakat juga diimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah dan instansi terkait dalam upaya mengurangi risiko bencana.
Melalui kajian ini, diharapkan upaya mitigasi bencana gerakan tanah di Kabupaten Bantul dapat dilakukan secara lebih terarah, terpadu, dan berkelanjutan, guna meminimalkan potensi kerugian serta meningkatkan keselamatan masyarakat.

0 Komentar