Pemerintah Daerah melalui BPBD DIY menggelar Webinar Series Kebencanaan sebagai bagian dari rangkaian menuju Peringatan 20 Tahun Gempa DIY–Jateng 2006 pada Rabu (11/3/2026). Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran bersama untuk melihat kembali perjalanan penanggulangan bencana di Yogyakarta sekaligus memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman gempa bumi di masa depan.
Dalam sambutan pembukaan, Kepala Pelaksana BPBD DIY, Agustinus Ruruh Haryata, menegaskan bahwa peringatan dua dekade gempa besar 2006 bukan sekadar mengenang peristiwa masa lalu, tetapi menjadi momentum refleksi untuk memperkuat kesiapsiagaan masyarakat.
Menurutnya, kegiatan webinar ini penting untuk membangun pemahaman bersama mengenai risiko gempa bumi yang masih sangat relevan bagi wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Ia mengingatkan bahwa secara geologis, wilayah DIY memiliki kerentanan tinggi karena berada di sekitar Sesar Opak serta dekat dengan Zona Megathrust Selatan Jawa, yang merupakan bagian dari zona subduksi aktif.
“Beberapa kejadian gempa yang terjadi pada awal tahun 2026 menjadi pengingat bahwa ancaman gempa bumi adalah risiko nyata yang harus terus kita siapkan bersama,” ujarnya.
Ia juga menyoroti bahwa gempa besar tahun 2006 menjadi titik balik penting dalam tata kelola penanggulangan bencana di Indonesia. Peristiwa tersebut mendorong perubahan paradigma dari pendekatan yang sebelumnya lebih bersifat responsif menjadi pendekatan yang lebih preventif melalui mitigasi dan pengurangan risiko bencana.
“Gempa 2006 menjadi pelajaran besar yang kemudian melahirkan berbagai kebijakan strategis, termasuk hadirnya Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, yang menjadi landasan sistem penanggulangan bencana di Indonesia,” jelasnya.
Selama hampir dua dekade terakhir, berbagai upaya penguatan kapasitas telah dilakukan di DIY. Mulai dari pembentukan kelembagaan penanggulangan bencana, pengembangan program Kalurahan Tangguh Bencana, implementasi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), peningkatan kapasitas relawan, hingga penguatan sistem informasi dan peringatan dini.
Namun demikian, Ruruh menegaskan bahwa masih terdapat sejumlah tantangan yang harus dihadapi bersama. Di antaranya adalah kerentanan struktur bangunan, tingkat literasi kebencanaan masyarakat yang masih perlu ditingkatkan, serta pentingnya memperkuat koordinasi lintas sektor dalam menghadapi potensi bencana.
Karena itu, webinar yang diselenggarakan secara berseri ini diharapkan dapat menjadi ruang belajar bagi berbagai pihak, mulai dari pemerintah, akademisi, praktisi kebencanaan, hingga masyarakat umum. Selain membahas mitigasi struktural dan nonstruktural, forum ini juga bertujuan mengurangi kepanikan dan mencegah penyebaran misinformasi terkait gempa bumi.
Melalui kegiatan ini, BPBD DIY berharap pengetahuan dan pengalaman yang dibagikan dapat memperkuat komitmen bersama dalam membangun masyarakat Yogyakarta yang semakin tangguh dan siap menghadapi bencana di masa depan.(fm)

0 Komentar