Yogyakarta — Program InJourney Community Care bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY bersama Kwarda DIY dan Sekber SPAB DIY menggelar pelatihan tanggap bencana gempa bumi bagi pelajar di SMA Negeri 1 Piyungan, Kabupaten Bantul, pada Senin, 18 Mei 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya edukasi kebencanaan bagi pelajar di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang berada di kawasan rawan gempa bumi.
Pelatihan ini menitikberatkan pada peningkatan pemahaman siswa terkait ancaman Sesar Opak, salah satu sesar aktif yang menjadi perhatian dalam mitigasi bencana di DIY. Kegiatan dilaksanakan secara interaktif melalui penyampaian materi, simulasi evakuasi mandiri, serta diskusi bersama peserta.
Program tersebut merupakan bagian dari target pelatihan kepada 1.000 siswa dan guru dari berbagai sekolah di DIY. Melalui pendekatan berbasis sekolah, kegiatan diharapkan mampu memperkuat budaya sadar bencana sejak usia muda.
Dalam sesi pelatihan, Penelaah Teknis Kebijakan Bidang Pencegahan, Kesiapsiagaan, Rehabilitasi, dan Rekonstruksi BPBD DIY, Fadri Mustofa, membangun dialog interaktif dengan para siswa. Ia menanyakan kepada peserta apakah mereka mengetahui tentang gempa besar Yogyakarta tahun 2006.
Para siswa mengaku mengetahui peristiwa tersebut, namun sebagian besar hanya dari membaca informasi di internet dan mendengar cerita dari orang-orang di sekitar mereka. Dialog tersebut menunjukkan bahwa generasi pelajar saat ini tidak mengalami langsung gempa besar 2006, sehingga pengalaman kebencanaan mereka lebih banyak diperoleh melalui informasi digital dan cerita keluarga.
Fadri menyampaikan bahwa kondisi tersebut menjadi alasan pentingnya pendidikan kebencanaan dilakukan secara langsung di sekolah.
Dalam kesempatan itu, ia juga menjelaskan perbedaan antara potensi dan prediksi bencana. Potensi merupakan kemungkinan terjadinya bencana berdasarkan kondisi alam, keberadaan sesar aktif, dan data ilmiah yang dapat dipelajari. Sementara itu, prediksi adalah penentuan secara pasti kapan bencana akan terjadi, sesuatu yang hingga kini belum dapat dilakukan untuk gempa bumi.
“Gempa bumi belum bisa diprediksi. Peserta harus memahami perbedaan antara potensi dan prediksi,” ujar Fadri dalam sesi pelatihan.
Selain materi kebencanaan, peserta juga mengikuti simulasi evakuasi sebagai bentuk latihan menghadapi situasi darurat. Para siswa diajak memahami langkah-langkah perlindungan diri saat gempa terjadi, termasuk prosedur evakuasi menuju titik aman.
BPBD DIY mengapresiasi keterlibatan sektor swasta dalam mendukung pengurangan risiko bencana melalui pendidikan berbasis komunitas sekolah. Kolaborasi semacam ini dinilai penting untuk memperluas literasi kebencanaan di masyarakat.(fm)

0 Komentar