Rangkaian Webinar Series Kebencanaan yang diselenggarakan BPBD DIY dalam rangka menuju peringatan dua dekade Gempa Yogyakarta 2006 digelar pada Rabu (11/3/2026). Kegiatan ini tidak hanya menghadirkan paparan mengenai ancaman gempa, tetapi juga berbagi pengetahuan praktis terkait upaya mitigasi bagi masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Salah satu materi teknis disampaikan oleh Kepala Bidang Penanganan Darurat Badan Penanggulangan Bencana Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta, R. Tito Asung Kumoro Wicaksono, S.T., M.Eng, yang memaparkan praktik sederhana membangun bangunan tahan gempa, khususnya untuk rumah tinggal satu lantai.
Dalam paparannya, Tito menjelaskan bahwa salah satu faktor utama yang menentukan keselamatan saat gempa bukan hanya pada kekuatan guncangan, tetapi juga pada kualitas bangunan tempat masyarakat tinggal. Oleh karena itu, pemahaman mengenai konstruksi bangunan yang benar perlu diketahui masyarakat, terutama bagi mereka yang membangun rumah secara mandiri.
Ia memulai dengan menjelaskan spesifikasi teknis material yang direkomendasikan untuk membangun struktur rumah yang lebih aman. Untuk campuran beton, Tito menyarankan perbandingan minimal 1 bagian semen, 2 bagian pasir, dan 3 bagian kerikil atau split, dengan tambahan setengah bagian air agar kuat tekan beton dapat tercapai dengan baik. Selain komposisi campuran, kualitas material juga harus diperhatikan. Pasir dan kerikil harus bersih dari lumpur, sementara air pencampur beton tidak boleh mengandung kotoran.
Pada bagian struktur, ia menekankan pentingnya penggunaan besi tulangan yang memenuhi standar Badan Standardisasi Nasional (SNI). Menurutnya, diameter tulangan utama untuk kolom dan balok minimal 10 milimeter, sedangkan balok slof atau pengikat fondasi disarankan menggunakan besi berdiameter minimal 12 milimeter. Sementara itu, sengkang atau begel yang berfungsi mengikat tulangan utama sebaiknya menggunakan besi berdiameter 6 hingga 8 milimeter dengan jarak antar sengkang sekitar 15 sentimeter.
Salah satu detail struktur yang sering diabaikan, kata Tito, adalah bentuk tekukan sengkang. Ia mengingatkan bahwa ujung sengkang tidak boleh hanya ditekuk 90 derajat, tetapi harus dibuat tekukan yang benar agar mampu mengunci beton dengan kuat. Jika tidak dilakukan dengan benar, beton dapat terlepas saat terjadi resonansi akibat guncangan gempa.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya sambungan atau angkur pada pertemuan balok dan kolom. Panjang sambungan besi minimal harus mencapai 40 kali diameter besi (40D) agar ikatan antar elemen struktur tetap kuat saat menerima beban gempa. Untuk dinding dengan luas lebih dari 16 meter persegi, ia juga menyarankan pemasangan balok late atau balok pinggang guna mencegah retakan pada sudut pintu maupun jendela.
Pada bagian fondasi, Tito menjelaskan bahwa kedalaman fondasi idealnya lebih dari 45 sentimeter, bahkan disarankan mencapai 60 hingga 70 sentimeter agar bangunan lebih stabil. Proses pemasangan fondasi juga perlu diawali dengan lapisan pasir setebal sekitar 5 sentimeter agar batu fondasi tidak langsung bersentuhan dengan tanah.
Sementara pada dinding bata merah, perlu dipasang besi angkur yang dikaitkan dengan kolom praktis setiap enam lapis bata. Hal ini bertujuan agar dinding tidak mudah terlepas dari struktur utama saat terjadi guncangan.
Tito juga menyoroti bagian rangka atap yang kerap luput dari perhatian. Untuk konstruksi kayu, ia menyarankan penggunaan baut dibandingkan paku dalam menyambung kuda-kuda atap karena sambungan baut lebih kuat dan aman. Sedangkan pada konstruksi baja ringan, pemasangan harus mengikuti kaidah teknis yang benar serta dilengkapi pengaku agar tidak mudah terangkat atau terlepas saat terkena angin kencang.
Sebagai penutup, Tito menegaskan bahwa prinsip utama dalam bangunan tahan gempa adalah mengurangi risiko runtuhnya struktur yang dapat membahayakan penghuni. Jika masyarakat belum mampu membangun rumah tembok dengan struktur beton bertulang yang kuat, rumah berbahan kayu atau bambu yang ringan dapat menjadi pilihan yang lebih aman.
“Bangunan ringan seperti rumah kayu atau bambu relatif lebih ramah gempa. Jika terjadi kerusakan, risikonya tidak sebesar bangunan berat yang runtuh dan menimpa penghuninya,” ujarnya.
Melalui materi teknis dalam Webinar Series Kebencanaan ini, BPBD DIY berharap masyarakat semakin memahami langkah-langkah praktis dalam membangun rumah yang lebih aman terhadap gempa, sehingga upaya pengurangan risiko bencana dapat dimulai dari lingkungan tempat tinggal masing-masing.(fm)

0 Komentar