Yogyakarta, 04 Maret 2026. Cuaca ekstrem kembali melanda wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta pada Selasa, 3 Maret 2026. Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat mulai terjadi sekitar pukul 12.36 WIB dan berlangsung hingga malam hari. Di sejumlah wilayah, hujan disertai angin kencang yang cukup kuat sehingga menimbulkan berbagai dampak kebencanaan.
Berdasarkan pantauan Pusdalops PB DIY dan laporan dari kabupaten/kota, kejadian tersebar hampir di seluruh wilayah DIY.
Kabupaten Gunungkidul menjadi wilayah dengan dampak paling banyak. Cuaca ekstrem tercatat di 32 titik dan tanah longsor di 3 titik, terutama di Kapanewon Semin dan Gedangsari. Dampak yang ditimbulkan meliputi 23 titik pohon tumbang, 30 rumah terdampak, 4 titik akses jalan terganggu, 1 talud rusak, 1 drainase terdampak, serta 1 warung/tempat usaha mengalami kerusakan. Estimasi kerugian mencapai Rp58.500.000,-.
Di Kota Yogyakarta, kejadian terjadi di Kemantren Kotagede. Satu pohon tumbang menyebabkan gangguan akses jalan dan berdampak pada satu warung/tempat usaha.
Sementara itu, di Kabupaten Bantul, cuaca ekstrem terjadi di Kapanewon Sewon dan Kasihan. Dua pohon tumbang dilaporkan, disertai gangguan jaringan listrik dan dua titik akses jalan terdampak.
Di Kabupaten Sleman, kejadian tercatat di Kapanewon Pakem dan Seyegan. Dampaknya berupa dua pohon tumbang, satu rumah terdampak, dan satu kandang mengalami kerusakan.
Sedangkan di Kabupaten Kulon Progo, angin kencang menyebabkan pohon tumbang menimpa rumah warga di Temon. Selain itu, tanah longsor pada galengan rumah di wilayah Samigaluh menimbulkan retakan hingga dapur dan kamar mandi warga.
Berdasarkan analisis meteorologi BMKG Stasiun Meteorologi Yogyakarta, kejadian ini dipengaruhi oleh beberapa faktor atmosfer:
- Pola angin baratan dengan kecepatan mencapai 50 km/jam.
- Terbentuknya konvergensi (pertemuan arus angin) di wilayah Jawa termasuk DIY.
- Adanya wilayah tekanan rendah di Samudera Hindia selatan Jawa dan utara Australia.
- Kelembapan udara yang sangat tinggi (80–98%) di lapisan bawah hingga menengah.
- Suhu muka laut yang relatif hangat (26–29°C) mendukung penguapan tinggi.
- Pertumbuhan awan konvektif signifikan terpantau citra satelit Himawari-8 dengan suhu puncak awan mencapai -80°C
Kondisi tersebut memperkuat proses pembentukan awan hujan pada siang hingga sore hari, yang kemudian berkembang menjadi hujan lebat disertai kilat/petir dan angin kencang.
BMKG juga mencatat adanya Bibit Siklon Tropis “90S” di Samudera Hindia selatan Pulau Jawa yang memicu belokan dan pertemuan angin di sepanjang Pulau Jawa, sehingga mendukung pertumbuhan awan hujan di wilayah DIY.
Prospek Cuaca 4–6 Maret 2026: Masih Berpotensi Hujan Lebat
BMKG memprakirakan potensi hujan sedang hingga lebat masih dapat terjadi dalam 2–3 hari ke depan:
- 4 Maret 2026: Sleman, Kulon Progo bagian utara, dan Gunungkidul bagian utara.
- 5 Maret 2026: Kulon Progo, Gunungkidul bagian selatan, dan Bantul bagian selatan.
- 6 Maret 2026: Potensi hujan ringan–sedang di Sleman utara, Kulon Progo utara, dan Gunungkidul utara.
Selain itu, masyarakat pesisir di Kulon Progo, Bantul, dan Gunungkidul juga diminta waspada terhadap potensi gelombang tinggi.
Tips Kesiapsiagaan dan Kewaspadaan
Berdasarkan analisis BMKG dan kondisi lapangan, BPBD DIY mengimbau masyarakat untuk:
- Waspada saat siang–sore hari, terutama ketika awan gelap mulai terbentuk cepat disertai angin kencang.
- Pangkas dahan pohon rapuh di sekitar rumah untuk mengurangi risiko tumbang.
- Periksa talud dan saluran air, terutama di wilayah perbukitan dan lereng, guna mencegah longsor susulan.
- Hindari berteduh di bawah pohon besar atau baliho saat hujan disertai angin.
- Amankan barang dan peralatan ringan di luar rumah yang mudah terhempas angin.
- Bagi warga lereng Merapi, patuhi rekomendasi resmi dan tidak beraktivitas di alur sungai berhulu di puncak Merapi saat hujan, karena berpotensi terjadi aliran lahar.
- Pantau informasi resmi BMKG dan BPBD, serta siapkan rencana evakuasi keluarga jika diperlukan.
Cuaca ekstrem adalah bagian dari dinamika alam DIY. Dengan kesiapsiagaan, kewaspadaan, dan informasi yang tepat, risiko dapat ditekan dan keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas bersama.

0 Komentar