BPBD DIY menggelar rapat koordinasi kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi menjelang Hari Raya Idul Fitri 2026, Selasa (17/3). Rapat yang dihadiri oleh perwakilan BPBD kabupaten/kota, dinas terkait, serta forum pengurangan risiko bencana ini menyoroti tingginya kerawanan bencana di sejumlah wilayah. Berdasarkan data periode Oktober 2025 hingga Maret 2026, Kabupaten Kulon Progo tercatat sebagai daerah dengan kejadian bencana tertinggi, khususnya tanah longsor dan cuaca ekstrem, disusul Gunungkidul, Bantul, Kota Yogyakarta, dan Sleman.
Dalam forum tersebut, BPBD DIY mengungkapkan bahwa selama periode tersebut terdapat 43 warga mengungsi dan empat orang meninggal dunia akibat bencana, yang sebagian besar disebabkan oleh pohon tumbang. Kondisi ini mendorong perlunya langkah antisipatif lintas sektor, terutama melalui identifikasi dan penanganan pohon berisiko di kawasan permukiman dan jalur lalu lintas. Selain itu, status siaga darurat hidrometeorologi yang berlaku hingga 19 Maret 2026 direncanakan diperpanjang hingga 19 April 2026, mengingat kondisi cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi selama masa pancaroba.
Sebagai upaya kesiapsiagaan Lebaran, BPBD DIY akan mengoperasikan posko siaga 24 jam serta melakukan pemantauan di 33 titik posko yang tersebar di jalur mudik, kawasan wisata, dan wilayah rawan bencana. Koordinasi lintas instansi juga diperkuat untuk memastikan respons cepat terhadap kejadian darurat, termasuk penanganan pohon tumbang dan potensi longsor. Masyarakat dan wisatawan diimbau tetap waspada, khususnya di kawasan pantai selatan yang berpotensi mengalami gelombang tinggi, demi menjaga keselamatan selama perayaan Idul Fitri.

0 Komentar