Pemerintah Daerah melalui BPBD DIY menyelenggarakan Webinar Series Kebencanaan sebagai bagian dari rangkaian kegiatan menuju peringatan dua dekade Gempa Yogyakarta 2006. Kegiatan yang digelar secara daring ini menjadi ruang refleksi sekaligus pembelajaran bersama bagi pemerintah, akademisi, praktisi kebencanaan, dan masyarakat untuk melihat kembali perjalanan penanggulangan bencana di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sebagai keynote speaker, Pelaksana Tugas Deputi Bidang Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Pangarso Suryotomo, menekankan pentingnya menjadikan momentum menuju peringatan 20 tahun gempa 2006 sebagai refleksi bersama untuk memperkuat kesiapsiagaan masyarakat.
Menurutnya, peristiwa gempa yang terjadi pada 27 Mei 2006 menjadi pengingat tentang besarnya dampak bencana yang dapat ditimbulkan, baik dari sisi korban jiwa maupun kerugian material. Ia menegaskan bahwa gempa bumi dapat terjadi secara tiba-tiba sehingga kesiapsiagaan masyarakat menjadi faktor kunci dalam menyelamatkan nyawa.
“Peristiwa 2006 memberi pelajaran besar bahwa kesiapsiagaan adalah kunci utama. Ketika masyarakat memahami apa yang harus dilakukan saat gempa terjadi, risiko korban dapat ditekan,” ujarnya.
Dalam paparannya, Pangarso juga menyoroti kuatnya solidaritas masyarakat saat bencana terjadi dua dekade lalu. Pada saat itu, lembaga penanggulangan bencana seperti BNPB maupun BPBD belum terbentuk seperti sekarang. Meski demikian, masyarakat menunjukkan semangat gotong royong yang tinggi dalam melakukan evakuasi, membantu korban, hingga mendukung proses pemulihan pascabencana.
Ia menilai ketangguhan masyarakat tersebut menjadi fondasi penting dalam sistem penanggulangan bencana di Indonesia saat ini. Oleh karena itu, kesiapsiagaan perlu terus diperkuat dan dijadikan sebagai bagian dari budaya masyarakat sehari-hari.
Menurut Pangarso, pengetahuan mengenai jalur evakuasi, latihan tanggap darurat, serta pembangunan rumah dan bangunan tahan gempa harus terus didorong agar menjadi kebiasaan yang tertanam dalam kehidupan masyarakat, bukan hanya tanggung jawab pemerintah semata.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya edukasi kebencanaan bagi generasi muda, khususnya generasi Z. Banyak di antara mereka yang saat gempa 2006 terjadi masih kecil bahkan belum lahir. Karena itu, generasi tersebut perlu dikenalkan kembali pada sejarah dan risiko gempa di wilayah tempat mereka tinggal agar memori kolektif tentang bencana tidak hilang.
Pangarso juga mengingatkan peran strategis pemerintah daerah dalam mengintegrasikan pengurangan risiko bencana ke dalam kebijakan pembangunan. Hal ini mencakup perencanaan tata ruang yang memperhatikan potensi bencana serta penerapan standar bangunan yang lebih aman terhadap guncangan gempa.
Dalam kesempatan tersebut, ia turut mengajak seluruh elemen masyarakat—mulai dari keluarga, sekolah, tempat ibadah, hingga pusat aktivitas ekonomi—untuk rutin melakukan latihan evakuasi mandiri, terutama pada momentum Hari Kesiapsiagaan Bencana yang diperingati setiap tanggal 26 April.
Ia juga menyoroti karakter Yogyakarta sebagai kota pendidikan dan pariwisata yang dihuni banyak pendatang dari berbagai daerah. Kondisi ini membuat sosialisasi mengenai risiko gempa perlu dilakukan secara lebih luas agar masyarakat dari luar daerah yang tinggal di Yogyakarta juga memahami langkah-langkah keselamatan saat terjadi gempa.
Melalui Webinar Series Kebencanaan ini, diharapkan momentum menuju peringatan 20 tahun gempa Yogyakarta 2006 tidak hanya menjadi ajang mengenang peristiwa masa lalu, tetapi juga memperkuat komitmen bersama untuk membangun masyarakat yang lebih tangguh, sadar risiko, dan siap menghadapi potensi bencana di masa mendatang.(fm)

0 Komentar