Yogyakarta, 11 Februari 2026. Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) BPBD DIY kembali melaksanakan kegiatan rutin berupa konsolidasi dan sinkronisasi data kejadian kebencanaan antara kabupaten dan provinsi. Kegiatan ini dirangkaikan dengan sosialisasi Aplikasi PAMOR sebagai sistem pendataan, pelaporan, dan penanganan kebencanaan di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kegiatan berlangsung pada Rabu, 11 Februari 2026, bertempat di kantor BPBD Kabupaten Kulon Progo, dan diikuti oleh jajaran Pusdalops DIY serta tim BPBD Kabupaten Kulon Progo.
Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD DIY R. Tito Asung Kumoro Wicaksono, ST., M.Eng, Manajer Pusdalops DIY Julianto Wibowo, S.T., beserta tim Pusdalops DIY. Dari pihak tuan rumah, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kulon Progo Setiawan Tri Widada, S.Sos. bersama jajaran turut menyampaikan laporan perkembangan kejadian hidrometeorologi yang hingga saat ini masih terjadi di wilayah Kabupaten Kulon Progo.
Dalam sambutannya, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kulon Progo menyampaikan gambaran kondisi kebencanaan di tahun 2026, termasuk rekapitulasi data kejadian serta status siaga darurat hidrometeorologi dan upaya penyaluran bantuan logistik bagi warga terdampak.
Sementara itu, Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD DIY menegaskan bahwa kunjungan ini merupakan bentuk kolaborasi dan penguatan koordinasi antara kabupaten dan provinsi, khususnya dalam mewujudkan satu data kebencanaan yang akurat, cepat, dan dapat dipertanggungjawabkan. Ia juga menyampaikan bahwa permohonan bantuan dari Kabupaten Kulon Progo kepada Provinsi DIY telah disetujui.
Pada sesi utama, Manajer Pusdalops DIY memaparkan sejarah pengembangan Aplikasi PAMOR serta fungsinya sebagai pusat manajemen data kejadian bencana di DIY. Aplikasi ini memungkinkan proses pendataan sejak laporan awal, penanganan di lapangan, hingga pemantauan perkembangan kondisi kejadian secara real time.
Diskusi teknis kemudian dipandu oleh tim Pusdalops DIY, yang menjelaskan alur kerja Aplikasi PAMOR, baik berbasis web maupun aplikasi mobile. Melalui PAMOR, laporan dari masyarakat dapat langsung diteruskan kepada petugas terdekat, dilengkapi dengan peta sebaran kejadian, grafik, jenis kejadian, waktu, serta lokasi kejadian.
Berbagai pertanyaan dan masukan muncul dari peserta, di antaranya terkait potensi data ganda, sinkronisasi dengan aplikasi lain seperti milik BNPB maupun aplikasi daerah, mekanisme responder, hingga perbedaan pencatatan antara kejadian dan bencana. Seluruh pertanyaan tersebut dijawab secara komprehensif oleh tim Pusdalops DIY, dengan penekanan bahwa PAMOR berfungsi sebagai jembatan data antara kabupaten/kota dan provinsi, serta akan terus dikembangkan sesuai kebutuhan di lapangan.
Kegiatan ditutup dengan harapan agar pertemuan serupa dapat dilaksanakan secara rutin dan ke depan dilengkapi dengan sesi praktik langsung penggunaan Aplikasi PAMOR, sehingga seluruh operator memiliki pemahaman dan keterampilan yang sama dalam pengelolaan data kebencanaan.

0 Komentar