YOGYAKARTA — Suasana diskusi dalam Webinar Series peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) 2026 bertajuk “20 Tahun Gempa Jogja: Dari Luka Menuju Ketangguhan” berlangsung dinamis. Kegiatan yang digelar Kamis (16/4/2026) ini tidak hanya menjadi ruang refleksi, tetapi juga forum strategis untuk merumuskan arah pengurangan risiko bencana berbasis pembelajaran dua dekade terakhir.
Dipandu oleh moderator Budi Santoso, S.Psi., M.Kes., sesi diskusi inti menghadirkan perspektif historis sekaligus penguatan konteks lokal Yogyakarta sebagai daerah dengan karakter sosial yang unik. Ia membuka diskusi dengan menekankan bahwa ketangguhan DIY tidak lahir secara instan, melainkan dibangun dari pengalaman panjang, terutama pascagempa 2006.
Budi menyoroti bahwa antusiasme peserta dari berbagai daerah menjadi bukti bahwa Yogyakarta memiliki daya tarik tersendiri sebagai ruang belajar kebencanaan. Menurutnya, kekuatan utama DIY terletak pada keguyuban masyarakat dan gerakan kemanusiaan yang tumbuh secara organik.
Ia juga mengingatkan kembali salah satu momen penting dalam sejarah penanganan bencana nasional, yakni ketika pemerintah pusat di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memusatkan aktivitas kabinet di Yogyakarta selama beberapa hari untuk memastikan percepatan penanganan pascabencana.
“Dari situ terlihat bahwa penanganan bencana membutuhkan kepemimpinan kuat sekaligus kolaborasi lintas sektor,” ujarnya.
Dalam konteks kelembagaan, Budi menegaskan bahwa penguatan kapasitas daerah tidak terlepas dari peran berbagai institusi di DIY, mulai dari BPBD, Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB), hingga inisiatif Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) yang terus mendorong edukasi kebencanaan sejak dini.
Sementara itu, narasumber Dr. Puji Pujiono, M.S. membawa peserta pada refleksi yang lebih mendalam terkait pembelajaran dari gempa 2006. Ia mengisahkan pengalamannya terlibat langsung dalam respons internasional selama beberapa bulan di Yogyakarta, yang menurutnya menjadi salah satu contoh nyata kekuatan masyarakat dalam menghadapi krisis.
Namun di balik kekuatan tersebut, ia mengingatkan bahwa risiko bencana di Yogyakarta masih sangat kompleks. Faktor geografis, kepadatan penduduk, kualitas bangunan, hingga kecenderungan masyarakat melupakan pengalaman masa lalu menjadi tantangan serius yang harus dihadapi.
“Bencana bukan semata karena alam, tetapi karena kita belum cukup siap mengelola risikonya,” tegasnya.
Ia juga menyoroti potensi ancaman berlapis di DIY, mulai dari gempa bumi, tsunami, hingga erupsi Gunung Merapi, yang menuntut pendekatan mitigasi yang lebih komprehensif. Selain itu, kondisi tanah tertentu di wilayah Yogyakarta berpotensi memperkuat dampak guncangan gempa, sehingga memperbesar risiko kerusakan.
Untuk itu, Puji Pujiono mendorong lima langkah strategis ke depan, yaitu penguatan kebijakan berbasis risiko, penerapan standar bangunan tahan gempa, pengendalian tata ruang, peningkatan literasi kebencanaan, serta penguatan kapasitas respons, terutama di sektor medis dan logistik.
Ia juga menegaskan kembali pentingnya menempatkan Yogyakarta sebagai pusat unggulan pembelajaran kebencanaan. Dengan kombinasi antara kekuatan sosial, dukungan akademik, dan pengalaman empiris, DIY dinilai memiliki posisi strategis sebagai rujukan praktik baik pengurangan risiko bencana.
Diskusi ini sekaligus memperkuat pesan utama HKB 2026 bahwa kesiapsiagaan harus diwujudkan dalam aksi nyata. Salah satunya melalui partisipasi aktif masyarakat dalam simulasi evakuasi mandiri serentak pada 26 April pukul 10.00 WIB, yang menjadi bagian dari kampanye nasional.
Melalui rangkaian kegiatan ini, BPBD DIY berharap pembelajaran dari masa lalu tidak berhenti sebagai ingatan kolektif, tetapi menjadi fondasi kuat dalam membangun budaya siaga dan ketangguhan masyarakat di masa depan.(fm)

0 Komentar