Hujan dengan intensitas lebat yang terjadi di wilayah Bantul pada akhir Februari 2026 memicu beberapa kejadian pergeseran tanah di kawasan permukiman. Salah satunya terjadi di Dusun Guwo RT 03, Kalurahan Triwidadi, Kapanewon Pajangan, pada Kamis (26/2) sekitar pukul 12.00 WIB. Pergerakan tanah di kawasan Perumahan Taman Semesta Asri menyebabkan kerusakan pada sedikitnya 20 rumah warga. Dari jumlah tersebut, satu rumah dilaporkan roboh dan 19 rumah mengalami kerusakan berat sehingga tidak dapat dihuni. Tanah di lokasi kejadian bahkan mengalami penurunan hingga sekitar 2,5 meter dengan area terdampak sekitar satu hektare.
Kejadian serupa juga dilaporkan sehari kemudian di wilayah Jambon RT 28, Kalurahan Argosari, Kapanewon Sedayu, Bantul. Pergeseran tanah di Perumahan Graha Sedayu Sejahtera menyebabkan kerusakan pada beberapa bangunan, yaitu 6 rumah warga dan satu fasilitas umum berupa masjid. Rekahan tanah dilaporkan mencapai kurang lebih 50 meter dan menyebabkan keretakan pada dinding serta penurunan konstruksi bangunan. Kejadian ini diduga dipicu oleh kondisi tanah uruk yang labil dan hujan dengan durasi cukup lama yang mengguyur wilayah tersebut. (Sumber : BPBD Bantul)
Menurut berbagai kajian kebencanaan, hujan berkepanjangan memang menjadi salah satu pemicu utama terjadinya gerakan tanah. Air hujan yang meresap ke dalam tanah dapat meningkatkan tekanan pada lapisan tanah sehingga membuat lereng atau tanah timbunan menjadi tidak stabil. Kondisi ini semakin berisiko jika terjadi pada tanah urukan, tebing yang dipotong, atau kawasan yang sistem drainasenya kurang baik.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kewaspadaan masyarakat terhadap potensi pergerakan tanah sangat penting, terutama saat musim hujan. Mengenali tanda-tanda awal sering kali dapat mencegah risiko yang lebih besar.
Beberapa tanda alam yang perlu diwaspadai sebelum terjadi longsor atau pergerakan tanah antara lain:
- Munculnya retakan pada tanah, halaman rumah, jalan, atau dinding bangunan.
- Pintu dan jendela tiba-tiba sulit dibuka atau ditutup karena perubahan posisi bangunan.
- Tiang listrik, pagar, atau pohon terlihat miring dari posisi semula.
- Air sumur menjadi keruh atau debitnya berubah tiba-tiba.
- Muncul rekahan memanjang di tanah atau di sekitar fondasi rumah.
- Terjadi penurunan permukaan tanah secara perlahan.
Tanda-tanda tersebut sering muncul beberapa waktu sebelum longsor besar terjadi.
Sebagai langkah kewaspadaan, masyarakat diimbau untuk rutin memeriksa kondisi tanah di sekitar rumah, memastikan saluran drainase berfungsi baik, serta tidak menambah beban bangunan di area yang berpotensi labil. Jika ditemukan retakan tanah yang semakin melebar atau terjadi pergerakan tanah, warga diharapkan segera menjauh dari lokasi dan melaporkan kepada pemerintah setempat atau petugas kebencanaan. Kewaspadaan sejak dini menjadi kunci untuk mengurangi risiko dan menjaga keselamatan masyarakat.

0 Komentar