Yogyakarta, 13 Oktober 2026 – BPBD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) turut serta dalam kegiatan Penyebaran Informasi Mitigasi Bencana Geologi Gempa Bumi di DIY yang diselenggarakan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Selasa, 13 Oktober 2026. Kegiatan ini menjadi sarana untuk meningkatkan pemahaman mengenai potensi bencana geologi di DIY sekaligus mendorong kesiapsiagaan dalam menghadapi ancaman gempa bumi dan tsunami.
Dalam kegiatan tersebut, peserta memperoleh pemaparan mengenai potensi gempa bumi dan upaya mitigasinya di DIY dari Dr. Supartoyo, S.T., M.T., Penyelidik Bumi Utama pada Badan Geologi. Materi menyoroti kondisi geologi DIY yang memiliki sumber gempa bumi dari zona penunjaman di selatan Jawa dan sesar aktif, termasuk Sesar Opak.
Berdasarkan paparan tersebut, gempa bumi dapat menimbulkan sejumlah bahaya, tidak hanya berupa guncangan, tetapi juga sesar permukaan serta bahaya ikutan seperti retakan dan penurunan tanah, gerakan tanah, serta likuefaksi. Pengalaman gempa bumi Yogyakarta pada 2006 menjadi salah satu pengingat pentingnya upaya pengurangan risiko bencana melalui pembangunan yang memperhatikan aspek keselamatan.
Mitigasi gempa bumi perlu dilakukan melalui pendekatan struktural dan nonstruktural. Upaya struktural antara lain membangun bangunan tahan gempa dan memperkuat bangunan yang sudah ada. Sementara itu, upaya nonstruktural dilakukan melalui sosialisasi, edukasi, simulasi secara rutin, perencanaan jalur dan tempat evakuasi, serta penataan ruang yang mempertimbangkan kawasan rawan bencana.
Materi lainnya membahas potensi tsunami di wilayah DIY dan rekomendasi mitigasinya. Paparan Badan Geologi menjelaskan bahwa sumber potensi tsunami di Yogyakarta berkaitan dengan zona megathrust di selatan Jawa. Kajian jejak tsunami di wilayah selatan Jawa juga menjadi bagian dari pembahasan untuk memahami potensi bahaya berdasarkan bukti geologi.
Mitigasi tsunami dilakukan melalui upaya struktural, seperti pembangunan pelindung pantai dan pengembangan jalur hijau yang sesuai dengan kondisi setempat. Adapun mitigasi nonstruktural mencakup edukasi masyarakat, penyusunan peta rawan tsunami, penentuan jalur dan titik evakuasi, pemasangan rambu, serta pelaksanaan simulasi penyelamatan diri.
Masyarakat di kawasan pesisir juga perlu mengenali tanda-tanda alam yang berpotensi mengindikasikan tsunami. Guncangan gempa bumi yang kuat harus direspons dengan segera menyelamatkan diri menuju tempat yang lebih tinggi tanpa menunggu informasi peringatan apabila berada di wilayah yang berpotensi terdampak tsunami.
Keikutsertaan BPBD DIY dalam kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas penanggulangan bencana melalui penguatan pengetahuan dan informasi kebencanaan. Pemahaman mengenai sumber ancaman, jenis bahaya, serta langkah mitigasi diharapkan dapat mendukung penyampaian informasi yang tepat kepada masyarakat.
Pengurangan risiko bencana membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, akademisi, media, dunia usaha, hingga masyarakat. Dengan meningkatkan literasi kebencanaan, kesiapsiagaan, dan kemampuan evakuasi mandiri, risiko serta dampak bencana geologi di DIY diharapkan dapat diminimalkan.

0 Komentar