Yogyakarta, 09 Februari 2026. Cuaca ekstrem yang melanda Daerah Istimewa Yogyakarta pada Senin, 9 Februari 2026, mengakibatkan sejumlah kejadian di Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta. Hujan sedang hingga lebat yang disertai kilat/petir dan angin kencang menimbulkan korban jiwa serta kerusakan infrastruktur dan bangunan warga.
Sambaran Petir di Seyegan, 2 Orang Meninggal Dunia
Peristiwa tragis terjadi sekitar pukul 11.30 WIB di area persawahan milik warga di Barak 1, Margoluwih, Seyegan, Sleman. Tiga orang tengah berteduh di gubug pada saat menanam padi karena hujan mulai turun disertai petir. Mereka sepakat akan melanjutkan pekerjaannya setelah hujan reda namun naas, petir menyambar kedua petani tersebut.
Akibat kejadian tersebut, dua orang meninggal dunia dan satu orang selamat. Korban telah dievakuasi ke RS At-Turots dan selanjutnya diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan.
Angin Kencang di Sleman: Pohon Tumbang dan Gangguan Infrastruktur
Pada hari yang sama, hujan lebat disertai angin kencang juga melanda wilayah Sleman sejak pukul 14.32 WIB. Dampak yang tercatat antara lain:
- Pohon tumbang di 8 titik
- Gangguan akses jalan di 2 titik
- Kerusakan 2 unit bangunan
- 1 kendaraan terdampak
- Gangguan jaringan listrik dan internet masing-masing 1 titik
- 2 baliho roboh
Kejadian tersebar di Kapanewon Depok dan Mlati. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.
Dahan Patah Timpa Rumah di Kota Yogyakarta
Di Kota Yogyakarta, hujan lebat disertai petir dan angin kencang menyebabkan dahan pohon berdiameter ±50 cm dan panjang ±15 meter patah dan menimpa bagian rumah warga di Kricak, Tegalrejo sekitar pukul 19.00 WIB. Sebagian dahan juga melintang di Sungai Winongo.
BMKG sebelumnya telah mengeluarkan peringatan dini potensi hujan sedang-lebat disertai kilat/petir dan angin kencang di wilayah DIY pada hari tersebut.
Tips Kebencanaan: Aman Saat Hujan Deras dan Terhindar dari Sambaran Petir
Berdasarkan rekomendasi resmi dari BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika), BNPB, serta panduan keselamatan dari WHO dan National Weather Service (NWS), berikut langkah-langkah penting untuk mengurangi risiko tersambar petir:
1. Segera Cari Tempat Berlindung yang Aman
- Masuk ke dalam bangunan permanen yang memiliki instalasi listrik dan penangkal petir.
- Alternatif aman adalah berada di dalam kendaraan tertutup (mobil), karena badan logam kendaraan dapat menyalurkan listrik ke tanah (efek Faraday).
2. Hindari Area Terbuka
- Jangan berada di sawah, lapangan, pantai, atau area terbuka saat terdengar suara guntur.
- Hindari berteduh di bawah pohon tunggal atau pohon yang lebih tinggi dari sekitarnya.
3. Jauhi Benda Konduktor Listrik
- Hindari tiang listrik, pagar besi, rel kereta, alat pertanian berbahan logam, dan genangan air.
- Saat di rumah, hindari menggunakan peralatan listrik yang terhubung langsung dengan stop kontak saat terjadi petir.
4. Terapkan Aturan 30-30 (Rekomendasi NWS & WHO)
- Jika jarak antara kilat dan suara guntur kurang dari 30 detik, segera masuk ke tempat aman.
- Tunggu minimal 30 menit setelah suara guntur terakhir sebelum kembali beraktivitas di luar ruangan.
5. Jika Terjebak di Area Terbuka
Jika tidak ada tempat berlindung:
- Jongkok dengan kedua kaki rapat.
- Tundukkan kepala dan tutup telinga.
- Jangan berbaring di tanah.
- Jaga jarak antar individu minimal 3–5 meter untuk menghindari korban massal akibat rambatan arus tanah.
6. Petani dan Pekerja Lapangan Perlu Waspada
- Pantau prakiraan cuaca harian BMKG sebelum beraktivitas.
- Hentikan aktivitas saat awan gelap mulai berkembang disertai angin kencang.
- Sediakan tempat berlindung yang lebih aman dari sekadar gubuk terbuka.

0 Komentar