Yogyakarta, 24 Januari 2026. Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dilanda kejadian angin kencang sejak Jumat, 23 Januari 2026 pukul 21.20 WIB hingga Sabtu, 24 Januari 2026. Peristiwa ini berdampak luas di seluruh wilayah DIY dan menimbulkan kerusakan infrastruktur, gangguan aktivitas masyarakat, serta korban jiwa.
Berdasarkan analisis BMKG, kejadian angin kencang ini dipicu oleh aktifnya angin kencang di lapisan udara atas pada level 925 mb atau sekitar 762 meter di wilayah Jawa, dengan kecepatan berkisar antara 10 hingga 45 knots atau setara 18–83 km/jam. Kondisi tersebut merupakan dampak tidak langsung dari keberadaan Siklon Tropis “Luana” di sekitar Pantai Barat Laut Australia, yang memengaruhi pola sirkulasi angin dan meningkatkan potensi cuaca ekstrem di wilayah DIY.
Akibat kejadian tersebut, tercatat 134 titik dampak yang tersebar di lima kabupaten/kota di DIY.
Kabupaten Sleman menjadi wilayah dengan dampak paling signifikan dengan 102 titik kejadian yang tersebar di 12 kapanewon, yaitu Cangkringan, Kalasan, Godean, Sayegan, Mlati, Ngemplak, Ngaglik, Tempel, Pakem, Turi, Sleman, dan Depok. Dampak yang ditimbulkan meliputi 96 pohon tumbang, 14 akses jalan terganggu, 17 jaringan listrik rusak, 3 jaringan internet terdampak, serta kerusakan pada 58 rumah, 6 kendaraan, 4 tempat usaha, 4 kandang ternak, 1 fasilitas kesehatan, 2 tempat ibadah, 1 bangunan joglo, dan 1 tower. Dalam kejadian ini, tercatat dua orang meninggal dunia dan sepuluh orang mengalami luka-luka.
Di Kota Yogyakarta, angin kencang terjadi pada 21 titik kejadian yang tersebar di delapan kemantren, yaitu Mergangsan, Kotagede, Gondomanan, Gedongtengen, Jetis, Umbulharjo, Kraton, dan Gondokusuman. Dampak yang ditimbulkan berupa 15 pohon tumbang, 11 akses jalan terganggu, 3 bangunan rusak, 2 rumah rusak, serta kerusakan pada 1 tempat ibadah, 1 tempat usaha, 2 tower, 2 kendaraan, dan 1 baliho.
Kabupaten Bantul mencatat 8 titik kejadian di Kapanewon Banguntapan, Sewon, dan Pleret. Angin kencang menyebabkan 7 pohon tumbang, 3 akses jalan terganggu, 3 tempat usaha rusak, 1 rumah rusak, 1 kendaraan terdampak, serta gangguan pada 1 jaringan lampu penerangan jalan umum.
Kabupaten Kulon Progo melaporkan 1 titik kejadian di Kapanewon Kalibawang dengan dampak berupa 1 rumah rusak dan 1 pohon tumbang. Sementara itu, Kabupaten Gunungkidul mencatat 2 titik kejadian di Kapanewon Patuk yang mengakibatkan 3 pohon tumbang, 1 rumah rusak, dan kerusakan pada bagian kendaraan.
Selain angin kencang, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat juga memicu kejadian tanah longsor di wilayah Kota Yogyakarta. Longsor terjadi pada pukul 16.25 WIB di Patangpuluhan, Wirobajan, RT 35 RW 7. Talud mengalami longsor dan berdampak pada bangunan budidaya maggot dan ayam petelur. Tidak terdapat korban jiwa dalam kejadian tersebut.
Rangkaian kejadian ini menunjukkan tingginya potensi bencana hidrometeorologi di DIY, khususnya pada periode musim hujan yang dipengaruhi oleh dinamika atmosfer skala regional dan global.
Analisis BMKG
BMKG menjelaskan bahwa pengaruh tidak langsung Siklon Tropis “Luana” menyebabkan peningkatan kecepatan angin di wilayah Jawa, termasuk DIY. Kondisi ini diperkuat oleh perbedaan tekanan udara dan pola sirkulasi angin yang memicu angin kencang di lapisan bawah hingga menengah atmosfer. Selain itu, kelembapan udara yang tinggi mendukung terbentuknya awan hujan yang dapat memicu hujan lebat, angin kencang, serta meningkatkan risiko kejadian turunan seperti pohon tumbang dan tanah longsor.
BMKG mengingatkan bahwa potensi cuaca ekstrem masih dapat terjadi, sehingga masyarakat diimbau untuk terus waspada dan mengikuti informasi resmi yang dikeluarkan oleh BMKG dan instansi terkait.
Tips dan Trik Mitigasi Angin Kencang dan Longsor
Sebagai langkah mitigasi, masyarakat diimbau untuk secara aktif memantau prakiraan cuaca dan peringatan dini BMKG, terutama saat terdapat potensi angin kencang dan hujan lebat. Informasi ini penting sebagai dasar pengambilan keputusan sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan.
Saat terjadi angin kencang, masyarakat disarankan menghindari berteduh atau beraktivitas di bawah pohon besar, baliho, menara, serta bangunan semi permanen yang berisiko roboh. Pastikan kondisi atap, pintu, dan jendela rumah terpasang kuat untuk mengurangi risiko kerusakan.
Lingkungan sekitar rumah perlu dijaga dengan memangkas pohon yang rapuh dan berpotensi tumbang, serta memastikan saluran drainase berfungsi dengan baik untuk mencegah genangan dan erosi tanah.
Bagi masyarakat yang tinggal di wilayah rawan longsor, kewaspadaan harus ditingkatkan saat hujan turun dengan intensitas tinggi atau durasi lama. Tanda-tanda seperti retakan tanah, talud miring, atau aliran air yang tidak biasa perlu segera dilaporkan kepada aparat setempat sebagai langkah pencegahan dini.
Apabila terjadi kondisi darurat, masyarakat diharapkan segera menjauh dari sumber bahaya dan mengikuti arahan petugas. Koordinasi yang baik antara masyarakat, relawan, dan pemerintah daerah menjadi kunci dalam mengurangi risiko serta mempercepat penanganan bencana.

0 Komentar