Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Daerah Istimewa Yogyakarta kembali memperkuat kapasitas relawan dan masyarakat melalui kegiatan Sosialisasi Strategi Relawan dan Masyarakat dalam Manajemen Bencana Tahun 2026. Kegiatan dilaksanakan pada Rabu, 12 Agustus 2026, di Kantor Kalurahan Sidomoyo, Kapanewon Godean, Kabupaten Sleman.
Kegiatan dibuka oleh Ibu Susana Prisila Riandani, S.E., M.M. dari BPBD DIY bersama Lurah Sidomoyo, Bapak Hariyadi. Sosialisasi menghadirkan Bapak Sofyan Setyo Darmawan, S.T., M.Eng. dari DPRD DIY dan Bapak Elfram Yuliawan, S.E. dari BASARNAS Yogyakarta sebagai narasumber.
Bapak Sofyan Setyo Darmawan menjelaskan bahwa penyelenggaraan penanggulangan bencana di DIY mengacu pada Peraturan Daerah DIY Nomor 13 Tahun 2015 yang menekankan pentingnya upaya pencegahan. Dalam pelaksanaannya, keselamatan kelompok rentan perlu menjadi perhatian utama, termasuk melalui penyediaan sarana yang aksesibel pada jalur evakuasi, lokasi pengungsian, dan fasilitas kesehatan bagi lansia serta penyandang disabilitas.
Penguatan kapasitas juga perlu dilakukan melalui peran aktif Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB), serta kemitraan dengan perguruan tinggi, dunia usaha, dan media massa. Kolaborasi tersebut diperlukan agar upaya pengurangan risiko bencana tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi menjadi gerakan bersama di tingkat masyarakat.
Materi dari BASARNAS Yogyakarta berfokus pada teknik evakuasi korban dengan memperhatikan mekanika tubuh. Penggunaan tubuh secara benar dan efisien saat mengangkat atau memindahkan korban penting untuk mencegah cedera, menjaga keseimbangan, dan mengurangi kelelahan penolong. Beberapa prinsip dasar yang perlu diperhatikan adalah merencanakan gerakan, menggunakan kekuatan tungkai, tidak membebani punggung, mendekatkan korban dengan tubuh penolong, serta mengurangi jarak atau ketinggian pemindahan.
Pemindahan darurat dilakukan apabila terdapat ancaman langsung terhadap keselamatan korban maupun penolong, seperti kebakaran, ledakan, atau kondisi lokasi yang menyulitkan korban memperoleh pertolongan. Teknik yang dapat digunakan antara lain shirt drag, blanket drag, shoulder/forearm drag, sheet drag, piggyback carry, one rescuer crutch, cradle carry, dan firefighter drag. Pemilihan teknik perlu disesuaikan dengan kondisi korban, situasi lingkungan, serta kemampuan penolong.
Dalam memberikan pertolongan, relawan diingatkan untuk menggunakan alat pelindung diri, memperkenalkan diri dan meminta izin, memeriksa kondisi korban, serta segera meminta bantuan petugas apabila situasi berada di luar kemampuan penolong. Apabila korban tidak merespons dan tidak teraba nafas maupun nadi, dilakukan CPR dengan 30 kompresi dan 2 napas bantuan sebanyak lima siklus. Ketika napas dan nadi kembali, korban ditempatkan dalam posisi miring stabil untuk membantu menjaga jalan napas.
Sesi diskusi turut membahas penanganan korban tenggelam dan kecelakaan lalu lintas pada malam hari. Untuk korban tenggelam, masyarakat dianjurkan mengutamakan keselamatan penolong dengan menggunakan alat bantu yang dapat menjangkau korban, seperti kayu atau benda lain yang dapat dilemparkan. Kontak langsung dengan korban menjadi pilihan terakhir bagi masyarakat awam karena berisiko menyebabkan penolong ikut tenggelam.
Sementara pada kecelakaan di jalan yang berlangsung dalam kondisi gelap dan sepi, keselamatan korban dan penolong harus menjadi pertimbangan utama. Apabila diperlukan pemindahan untuk menghindari bahaya lanjutan, korban dipindahkan menuju lokasi yang lebih aman dengan tetap memperhatikan mekanika tubuh dan menjaga jalan napas selama perjalanan menuju fasilitas kesehatan.
Melalui kegiatan ini, BPBD DIY mendorong relawan dan masyarakat Sidomoyo untuk meningkatkan kesiapan menghadapi keadaan darurat. Kemampuan mengenali risiko, memberikan pertolongan secara aman, serta melakukan evakuasi dengan teknik yang tepat diharapkan dapat memperkuat ketangguhan masyarakat sekaligus meminimalkan risiko cedera bagi korban maupun penolong.

0 Komentar