Yogyakarta – Langit Yogyakarta beberapa hari terakhir tak selalu tampil seperti wajah kemarau. Awan menggantung di sejumlah wilayah. Hujan lokal bahkan sempat turun.
Bagi sebagian warga, perubahan itu mungkin terasa seperti tanda bahwa musim hujan mulai mendekat.
Namun, langit mendung belum tentu berarti musim telah berganti.
Berdasarkan pembaruan perkembangan iklim BMKG Stasiun Klimatologi D.I. Yogyakarta per 31 Agustus 2026, peringatan dini kekeringan meteorologis pada Dasarian I September masih berada pada status Awas di seluruh wilayah DIY. Curah hujan September juga diprakirakan masih rendah, hanya sekitar 0–20 milimeter per bulan, dengan sifat hujan Bawah Normal.
Dengan kata lain, hujan yang sesekali datang belum cukup untuk menyatakan kemarau telah berakhir.
Ketika langit mulai berubah
Fenomena langit mendung yang terjadi dalam beberapa hari terakhir bukan tanpa penjelasan.
Dalam pemberitaan Harian Jogja pada 9 September 2026, BMKG Stasiun Meteorologi Yogyakarta menjelaskan bahwa kondisi tersebut antara lain dipengaruhi oleh tingginya kelembapan atmosfer pada lapisan tertentu. Kelembapan yang tinggi dapat mendukung pertumbuhan awan hingga memicu hujan lokal.
Kondisi serupa menyebabkan sejumlah wilayah DIY mengalami hujan dalam beberapa hari terakhir.
Tetapi hujan lokal tidak serta-merta menjadi penanda datangnya musim hujan.
Di sinilah masyarakat perlu membedakan cuaca dan musim.
Cuaca dapat berubah dengan cepat. Pagi cerah, siang mendung, sore hujan. Sementara musim merupakan pola cuaca yang dilihat dalam periode yang lebih panjang.
Singkatnya, beberapa kali hujan tidak otomatis mengakhiri kemarau.
September dan Oktober masih kering
Data BMKG menunjukkan kondisi kering masih berpotensi berlangsung.
Pada bulan September diprediksi memiliki curah hujan 0–20 milimeter per bulan dengan sifat hujan Bawah Normal. Bulan Oktober juga diprediksi memiliki kondisi serupa, dengan curah hujan 0–20 milimeter per bulan dan sifat hujan Bawah Normal. Selanjutnya pada bulan November, curah hujan diprakirakan mulai berada pada kisaran 0–100 milimeter per bulan. Namun sifat hujannya masih diprediksi Bawah Normal.
BMKG memperkirakan akhir musim kemarau 2026 di DIY baru terjadi pada Dasarian I dan II November.
Artinya, September bukanlah garis akhir musim kemarau. Bahkan, Oktober masih perlu menjadi perhatian.
Kemarau yang belum selesai
Bagi masyarakat, panjangnya musim kemarau bukan sekadar persoalan apakah hujan turun hari ini atau tidak.
Semakin panjang periode kering, semakin besar kebutuhan untuk menjaga ketersediaan air. Kondisi lahan yang kering juga dapat meningkatkan potensi kebakaran, terutama ketika bertemu dengan aktivitas manusia yang menggunakan api.
BMKG mengingatkan pemerintah daerah, institusi terkait, dan masyarakat agar mengantisipasi dampak musim kemarau, khususnya berkurangnya ketersediaan air bersih serta potensi kebakaran hutan dan lahan.
Oleh karena itu, hujan yang turun sesekali sebaiknya tidak membuat kewaspadaan terhadap kekeringan langsung diturunkan. Sebaliknya, hujan tersebut dapat menjadi kesempatan untuk kembali mengingat pentingnya pengelolaan air. (fm)

0 Komentar