Yogyakarta, 12 Agustus 2026 - Penanganan bencana membutuhkan lebih dari sekadar respons cepat. Di balik setiap keputusan, dibutuhkan data yang akurat, terbarui, dan mudah diakses. Inilah yang menjadi perhatian dalam mobilisasi personel Pusdalops BPBD DIY ke BPBD Kabupaten Kulon Progo, Selasa (11/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.30 WIB tersebut mengangkat tema penggunaan aplikasi PAMOR dalam pendataan, pelaporan, dan penanganan kebencanaan. Pertemuan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pengelolaan data kejadian bencana agar dapat mendukung pengambilan keputusan secara lebih cepat dan tepat.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kulon Progo, Setiawan, menyampaikan bahwa kondisi kebencanaan di wilayahnya pada 2026 antara lain masih menghadapi persoalan kebakaran lahan dan kebutuhan distribusi air bersih. Karena itu, keberadaan PAMOR diharapkan dapat berkembang sebagai bagian dari upaya mewujudkan satu data bencana.
Manager Pusdalops BPBD DIY, Julianto Wibowo, menjelaskan bahwa PAMOR dikembangkan untuk mendukung pengelolaan kejadian bencana sekaligus menjadi pusat data yang dapat dimanfaatkan dalam menentukan kebijakan. Penguatan sistem terlebih dahulu dilakukan di tingkat instansi sebelum nantinya diperluas kepada masyarakat maupun responder.
Salah satu kebutuhan yang mengemuka adalah tersedianya data secara real time, khususnya terkait penanganan kekeringan dan distribusi air bersih. Data tersebut diharapkan dapat menunjukkan jumlah kebutuhan, capaian distribusi, kekurangan, hingga kebutuhan dukungan dari mitra BPBD. Selain itu, diperlukan pula data mengenai lokasi sumur bor dan kajian alternatif penanganan kekeringan.
Dalam sesi teknis, Pusdalops PB BPBD DIY mendampingi Pusdalops BPBD Kabupaten Kulon Progo dalam pengisian data kejadian melalui PAMOR. Sistem ini memungkinkan data ditampilkan berdasarkan tanggal dan jenis kejadian, dilengkapi pengaturan akun bagi admin, operator, pimpinan, maupun masyarakat. Data juga membutuhkan koordinat lokasi kejadian agar dapat mendukung analisis secara lebih baik.
Selama ini, pengolahan data di Pusdalops BPBD Kabupaten Kulon Progo masih menggunakan spreadsheet atau Excel. Ke depan, akses data secara real time akan diupayakan agar Pusdalops BPBD DIY dapat memantau informasi sesuai kebutuhan.
Pertemuan ini menjadi langkah menuju pola kerja kebencanaan yang semakin terintegrasi. Harapannya, seluruh petugas BPBD Kabupaten Kulon Progo dapat memiliki akun dan aktif memonitor PAMOR, sehingga ketika informasi dibutuhkan dalam penanganan bencana, proses pelaporan tidak lagi bergantung pada komunikasi melalui telepon, tetapi dapat dilakukan langsung melalui sistem.
Data yang cepat, akurat, dan terintegrasi bukan sekadar catatan kejadian. Data adalah dasar untuk menentukan langkah, mengarahkan sumber daya, dan mempercepat penanganan bencana.

0 Komentar